Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label -ekonomi-. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label -ekonomi-. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Mei 2013

Tipu - Menipu Di Masyarakat

 
 
 
 
 
Hari ini saya akan posting sebuah isu yang lebih ringan. Ringan, tapi bukan berarti tidak penting ok.. Hehe..

Beberapa hari yang lalu, saya mendapat sebuah email dalam bahasa Inggris, sebuah email dari Nigeria, seseorang menyuruh saya mengontaknya dalam sebuah "kesempatan" yang nantinya akan memberikan saya 1 juta dolar lebih.

Pada dasarnya surat itu adalah sejenis Nigerian Scam. Saya jadi teringat sebuah cerita-cerita penipuan di masyarakat, walaupun korban menderita kerugian riil, tetapi kadang-kadang skenarionya terjadi di luar nalar yang kita sangka


Apa itu Masyarakat?Bagi Anda yang memahami kejamnya kehidupan, masyarakat adalah sebuah komunitas di mana orang-orang berkumpul bersama dan saling memanfaatkan untuk memperjuangkan kepentingan masing-masing. Itulah masyarakat.Dalam sejarah kehidupan manusia, kasus di mana seorang manusia (ataupun sekolompok manusia) berbohong dan memperdayai kelompok lainnya demi kepentingan pribadi adalah tidak terhitung banyaknya. Setiap hari, setiap saat, selalu ada kasus baru.Ada orang mengatakan media utama untuk mengendalikan orang adalah dengan kekuatan senjata, ada juga yang mengatakan media yang paling efektif adalah uang dan materi. Namun, sebenarnya ada sebuah media lainnya yang lebih murah dan jauh lebih berbahaya, yaitu bahasa.Hanya dengan menggunakan kata-kata, seorang individu, sebuah perusahaan, bahkan sebuah negara, bisa menyebabkan kehancuran dan kerugian skala raksasa kepada pihak lainnya (para korban).Buku ini adalah tentang penipuan konsumen, maka kita hanya akan membahas persoalan tentang kebohongan dan penipuan dalam skala yang lebih kecil, yaitu yang ada di masyarakat, baik yang terjadi di Indonesia, maupun contoh kasus yang terjadi di negara lainnya.Kita semua, secara tidak sadar, sering kali meremehkan permasalahan penipuan konsumen. Kita cenderung berpikir bahwa skala dari kegiatan ini pastilah masih kecil, jadi tidak perlu dibesar-besarkan. Nilai kerugian yang diderita masyarakat pastilah masih kecil, jadi lebih baik aparat kepolisian tidak usah terlalu fokus pada investigasi kasus-kasus penipuan konsumen. Namun, apakah asumsi kita ini akurat?

Kita mengira tindakan kriminalitas fisik terus bertambah dari tahun ke tahun, namun yang bisa kita pastikan sebenarnya adalah liputan media terhadap kriminalitas fisiklah yang bertambah, baik lewat media koran maupun lewat televisi. Kita mengira kasus penipuan konsumen sangat sedikit, kenyataannya adalah liputan media terhadap kasus inilah yang sedikit. Seandainya berbagai media lebih sering mengekspos jenis kriminalitas ini, kita baru akan menyadari betapa banyaknya kasus penipuan yang ada di sekeliling kita maupun di dunia.

Omset dari “bisnis” penipuan konsumen di seluruh dunia diperkirakan mencapai di atas US$100 milyar per tahun, alias di atas 1.000 trilyun rupiah setiap tahunnya. Berapa angka pastinya di Indonesia, tidak ada yang tahu, sebab masyarakat Indonesia cenderung lebih toleran dan jarang memprotes bila tertipu.

Sebelum bicara soal contoh kasus penipuan, mari kita pikirkan sebentar sebenarnya siapakah para penipu itu? Mengapa mereka melakukan-nya?

Sebenarnya, berbohong dan menipu adalah karakter dari kita semua. Siapa sih yang tidak berbohong? Ada orang mengklasifikasikan ke-bohongan berdasarkan tujuan berbohongnya, ada juga yang mengklasifikasikan kebohongan berda-sarkan skala akibatnya. Sekarang, mari kita lihat tahapan-tahapan sebelum sebuah tindakan naik sampai ke tingkat penipuan.

Omong Kosong

Omong kosong, yang populer disebut dengan istilah bullshit, adalah tahap awal ketika kita mulai belajar untuk mengucapkan hal-hal yang tidak akurat. Berbeda dengan kebohongan, omong kosong tidaklah diucapkan untuk menjebak dan merugikan orang lain.

Orang yang beromong kosong adalah mereka yang membicarakan suatu hal dalam kapastitas yang telah melebihi tingkat pemahaman mereka. Kita semua melakukannya, kita semua menikmatinya. Bila jam istirahat sudah tiba, ataupun bila beberapa teman sudah berkumpul bersama, semuanya akan mulai membicarakan berbagai macam hal, mulai dari hal-hal kecil sampai ke hal-hal rumit semacam politik internasional dan berbagai rahasia alam semesta.

Mengapa ada omong kosong? Sejak kapan manusia melakukannya?

Entahlah, siapa yang tahu? Kelihatannya omong kosong sudah ada sejak manusia ada. Sekadar spekulasi, omong kosong mungkin secara langsung berhubungan dengan sistem demokrasi yang kita anut. Di negara demokrasi, kita bebas untuk bicara, kita dianjurkan untuk bicara. Bila kita diam, kita dituduh tidak partisipatif untuk mengembangkan demokrasi, dan lebih buruknya lagi, sejumlah orang mencap orang diam sebagai orang bodoh. Untuk menghindari tuduhan ini, sejak kecil, murid-murid di sekolah sudah dididik, dibentuk, dan kalau perlu dipaksa untuk selalu bicara dan menyatakan pendapatnya.

Akibatnya, bisa ditebak, karena intensitas masyarakat untuk membicarakan hal-hal yang dalam batas-batas tertentu tidak mereka pahami meningkat, jumlah omong kosong pun meningkat.

Beberapa tahun yang lalu, saat saya bekerja sebagai staf marketing di sebuah perusahaan swasta, dalam salah satu rapat yang dihadiri oleh bos besar, bos berkata: “Hei, kalian jangan diam saja. Kalau ada ide katakan sekarang. Kalau kamu diam saja, saya anggap kamu bodoh!” Pada rapat-rapat di kemudian hari yang bila dihadiri oleh bos, semua staf marketing memegang teguh prinsip ini: “lebih baik bicara dan ketahuan bodoh daripada tidak mencoba dan tetap dituduh bodoh!”

Kebohongan “Putih”

Yang dimaksud dengan kebohongan putih adalah kebohongan yang diucapkan untuk menjaga ataupun memperbaiki hubungan sosial antar individu di masyarakat, dan oleh karenanya tidak terhindarkan dan “perlu” dilakukan. Contohnya:

 “Apa kabar Merry? Sudah lama tak jumpa, kami kangen sekali padamu”
 “Wah, kamu tampak cantik sekali hari ini”
 “Senang sekali berjumpa denganmu”
 “Wah, anakmu sudah besar ya. Ganteng sekali dia”
 “Bajumu bagus sekali. Beli di mana?”

Dengan orang-orang yang lebih dekat, mungkin Anda pernah juga mendengar kata-kata:

 “Saya akan selalu setia bersamamu. Mulai sekarang sampai hari kiamat memisahkan kita”
 “Besok malam saja sayang. Saya kurang enak badan hari ini”
 “Saya akan pulang agak malam sayang. Ada rapat di kantor”

Bisa Anda bayangkan, seandainya kita sama sekali tidak mengucapkan kebohongan putih, dunia ini tentunya akan sangat sunyi dan hubungan antar individu, baik di masyarakat maupun di keluarga, tentunya tidak akan sebaik sekarang.

Kebohongan “Abu-Abu”

Kebohongan abu-abu adalah kebohongan yang diucapkan untuk mendapatkan sejumlah keuntungan bagi diri sendiri, disadari oleh sang pengucap, namun masih dalam batas yang tidak terlalu merugikan pihak pendengar. Contoh:

Seorang Bapak mengatakan kepada anaknya: “Saya sangat mencintaimu nak, saya juga sangat mencintai Ibumu. Seandainya bisnis saya tidak gagal, saya pasti akan membawa kalian keliling dunia dan memberikan lebih banyak kepada kalian” (Kenyataannya, bisnisnya gagal karena kebiasaan judinya yang akut, dan juga karena beberapa wanita simpanan yang menguras habis uangnya).

Kebohongan “Hitam”

Kebohongan hitam adalah kebohongan yang diucapkan secara sadar dan sengaja untuk menyesatkan pendengar dan memberikan keuntungan pribadi bagi pengucapnya.

Sebagian pengusaha kotor, politisi busuk, pengacara tak bernurani, dan juga sejumlah perusahaan periklanan tak bermoral, tidak henti-hentinya mengucapkan kebohongan terhadap masyarakat. Orang-orang ini, karena kekuatan uang dan kekuasaan, tak tersentuh sama sekali oleh hukum.

Kadang-kadang, kita tidak bisa berhenti merasa heran, apakah sungguh-sungguh berbohong dan menjebak orang adalah hal yang salah. Bila ya, mengapa begitu banyak orang yang bebas melakukannya?

Penipuan

Pada dasarnya, perbedaan kebohongan hitam dan penipuan adalah pelakunya. Untuk kebohongan hitam, pelakunya adalah orang-orang yang karena pekerjaan, ataupun karena pangkatnya, memiliki “hak” untuk berbohong, sedangkan untuk penipuan, pelakunya adalah warga negara biasa ataupun perusahaan yang tidak memiliki “legitimasi untuk berbohong.”

Berikut sebuah ilustrasi:

A. Dalam suatu bencana alam di suatu negara, sekelompok pengusaha daerah kemudian mendirikan sebuah perusahaan untuk mengumpulkan sumbangan untuk diberikan kepada para korban. Perusahaan tersebut, menyuap sejumlah pejabat yang berwenang, dan juga bekerja sama dengan berbagai instansi yang terkait, mendapatkan lisensi dan legitimasi untuk mengumpulkan sumbangan. Dalam prakteknya, sumbangan yang diterima dipakai untuk menggaji diri mereka secara besar-besaran, menggaji beberapa karyawannya, membayar cicilan mobil baru dan kalau perlu, rumah baru, dan sisanya baru disumbangkan kepada para korban yang berhak. Katakanlah, pada akhirnya, sumbangan yang benar-benar disalurkan kepada korban adalah sebesar 50% dari nilai yang berhasil didapatkannya.

B. Tidak lama setelah itu, seorang warga biasa, sebut saja Franky, terinspirasi oleh cara mencari uang perusahaan tersebut, juga mulai mencari sumbangan untuk para korban. Uang yang akhirnya disalurkan Franky adalah 75% dari nilai yang didapatkannya. Untuk sebuah persentase nilai sumbangan yang sebenarnya lebih besar, Franky tetap bisa dimasukkan ke penjara, sebab dia tidak memiliki legitimasi untuk melakukannya.

Kebanyakan orang, walaupun menyadari bahwa mereka bukanlah manusia suci, bahwa mereka memang cenderung berbohong dalam kehidupan mereka, masih bisa menimbang-nimbang dalam kepala mereka kebohongan mana yang bisa diterima, dan kebohongan mana yang tidak bisa diterima.

Para penipu, mereka tidak akan mem-boroskan waktu mereka yang berharga untuk mengklasifikasikan jenis-jenis kebohongan, mereka juga tidak akan menimbang-nimbang kebohongan mana yang bisa diterima dan mana yang tidak bisa diterima.

Para penipu sangat lihai dalam membuat generalisasi untuk membenarkan perbuatan mereka. Mereka selalu menganggap bahwa apa yang mereka lakukan hanyalah manifestasi dari sifat umum manusia, sebab memang benar semua orang berbohong. Filsafat favorit mereka:

Seandainya berbohong adalah tindakan yang melanggar hukum, tentunya kita semua adalah kriminal. Karena tidak mungkin kita semua adalah kriminal, tentunya berbohong tidaklah melanggar hukum.”

Para penipu, yang mengambil resiko besar untuk melakukan apa yang mereka lakukan, bukanlah manusia dengan cara berpikir yang normal.

Bicara soal resiko, ini adalah hal yang membedakan antara penipu profesional dengan yang amatiran. Semua penipu adalah orang-orang yang ingin mendapatkan uang cepat, uang gampang, menikmati kebebasan tanpa limit, dan tergila-gila pada tantangan atas resiko perbuatan mereka. Namun, adalah kemampuan menangani resikolah yang akhirnya membedakan mereka.

Sekadar jago berbohong dan menangani resiko saja tidak akan membuat seseorang men-jadi penipu yang sukses. Untuk berhasil di arena ini dalam jangka panjang, tampaknya para penipu memang membutuhkan “suplemen” yang lain. Seorang mantan polisi mengatakan: “Penipu bukan hanya orang yang pandai berbohong, mereka memang menikmati kesenangan lewat tindakan manipulatif untuk merugikan orang lain, dan mereka juga senantiasa menghancurkan segala sesuatu yang bukan rancangan mereka. Orang-orang seperti ini memiliki kebencian yang sangat besar terhadap semua peraturan sosial.”

Mengapa para penipu berhasil?

Kita semua mungkin berpikir bahwa ada banyak alasan untuk tidak mempercayai orang lain. Namun, itu adalah pikiran sebelum ujian datang. Dalam prakteknya, kewaspadaan kita sebenarnya tidak bertambah hanya karena kita berpikir demikian.

Anda pergi ke supermarket membeli beberapa jenis buah-buahan. Anda memakannya tanpa berpikir panjang. Seberapa yakinkah Anda makanan yang sedang Anda makan benar-benar telah lulus uji kelayakan dan bebas bahan kimia berbahaya?

Anda ingin jalan-jalan ke luar pulau. Anda memutuskan untuk naik pesawat. Setelah check-in, Anda naik ke pesawat tanpa berpikir, seberapa aman pesawat yang sedang Anda tumpangi. Sebagian orang sempat berdoa sebelum pesawat take-off, tetapi mayoritas tidak. Sadarkah Anda bahwa Anda sedang menyerahkan kepercayaan absolut kepada sang pilot dan maskapai penerbangan? Pernahkah Anda khawatir Anda akan terpaksa merasakan hukum gravitasi di tengah langit bila ada yang tidak beres di mesin pesawat itu?

Oke lah, saya akui ini adalah perumpamaan yang agak paranoid. Sebenarnya maksud saya sederhana saja, yaitu bukan karena kita percaya bahwa banyak orang tidak layak dipercaya, lantas kewaspadaan kita otomatis menjadi meningkat.

Kebanyakan orang, berdasarkan pengalaman saya, benar-benar memiliki kecenderungan yang tinggi untuk mempercayai apa yang mereka lihat dan apa yang mereka baca. Hal inilah yang menyebabkan para pelaku penipuan konsumen berhasil memperdayai mangsanya.

Sebagai tambahan, sebelum kita menuju bab berikut tentang contoh-contoh kasus penipuan konsumen, saya tekankan lagi bahwa penipu tidaklah sama dengan pelaku kejahatan fisik. Para penipu mendapatkan uang dari konsumen yang secara suka rela memberikan uang kepada mereka. “Seni” dari penipuan adalah bagaimana membujuk dan membuat konsumen merasa yakin bahwa mereka sedang melakukan hal yang cerdas, bukannya hal yang bodoh.


BAB 2 : Telemarketing & Berbagai Investasi Palsu

Di bab ini, kita akan membicarakan berbagai jenis penipuan telemarketing dan janji-janji investasi yang menyesatkan konsumen:

Anda Memenangkan Hadiah!

Contoh #1:

Sebuah perusahaan telemarketing mengi-rimkan surat kepada Anda, katanya Anda telah dipastikan mendapatkan salah satu dari lima hadiah ini:

1. Satu buah motor Honda.
2. Satu paket liburan impian.
3. Satu set home entertainment.
4. Uang tunai sebesar 5 juta rupiah.
5. Uang tunai sebesar 1 juta rupiah.

Apa yang akan Anda dapatkan adalah tergantung pilihan acak oleh komputer mereka. Namun, sebelumnya Anda harus membayar dahulu biaya promosi dan pajak sebesar 500 ribu. Mereka meyakinkan Anda bahwa 500 ribu ini masih lebih rendah dibanding nilai barang yang akan Anda dapatkan.

Tidak akan ada orang yang mendapatkan motor Honda, tidak juga hadiah uang tunai. Yang disediakan oleh perusahaan telemarketing ini hanyalah paket liburan dan home entertainment.

Namun, jangan salah, ternyata yang mereka maksud dengan liburan impian adalah beberapa lembar voucher hotel, tidak termasuk biaya perjalanan dan akomodasi. Dan apa yang mereka maksud dengan home entertainment adalah sebuah radio kecil dan sebuah speaker murah.

Bukannya untung, bila Anda mempercayai mereka, Anda akan berakhir dengan kerugian baik materi maupun waktu.

Contoh #2:

Anda mendapatkan sebuah surat, isinya adalah Anda beruntung terpilih untuk mendapat-kan hadiah sebuah jam tangan emas Rolex dari perusahaan mereka. Namun, sebelumnya Anda harus membayar terlebih dahulu biaya pengiriman, pajak hadiah, dan juga Anda harus membeli salah satu dari produk yang mereka jual kepada Anda. Produk yang mereka tawarkan adalah:

 Satu set multi vitamin, seharga 300 ribu.
 Satu set kosmetik, seharga 250 ribu.
 Sebuah kalung dengan batu kristal, seharga 750 ribu.
 Sebuah cincin emas, seharga 1,5 juta.

Staf dari perusahaan mereka menghubungi Anda, menjelaskan dan membujuk agar Anda bersedia membeli produk mereka, alasan-alasan mereka kedengarannya valid:

Perusahaan tentu saja membutuhkan penjualan agar biaya hadiah kami yang mahal bisa tertutupi.
Kami rasa pembelian dari Anda cukup fair, bagaimanapun Anda telah memenangkan sebuah jam yang sangat berharga.

Setelah Anda membayar, bila Anda berun-tung, mereka benar-benar akan mengirimkan produk yang Anda beli kepada Anda.

Namun, multi vitamin yang Anda terima hanyalah beberapa botol vitamin seharga kurang dari 100 ribu, kosmetik yang Anda terima juga jauh di bawah 250 ribu. Batu kristalnya ternyata palsu, dan nilai cincin emasnya pun jauh di bawah harga beli Anda.

Mengenai jam Rolex, mereka mengatakan stok sedang habis dan mereka akan segera mengirimkan kepada Anda bila barang sudah tiba.

Perusahaan telemarketing seperti ini tidak memiliki alamat yang tetap, modus operasi mereka terutama adalah menggunakan telepon. Bila target mereka sudah tercapai, mereka akan kabur dan pindah ke kota lain.


Menyumbang! Menyumbang!

Contoh #3:

Beberapa perusahaan telemarketing mengklaim mereka adalah representatif dari beberapa yayasan sosial ternama. Mereka akan menelepon ataupun menyurati Anda untuk memberikan sejumlah sumbangan dengan cara membeli produk dari mereka. Mereka mengatakan keuntungan dari penjualan produk mereka akan digunakan untuk diberikan kepada beberapa yayasan sosial yang bekerja sama dengan mereka.

Bukan hal yang aneh bila mereka mencoba menjual kepada Anda produk-produk umum dengan harga puluhan kali lipat harga yang wajar. Para konsumen yang membeli mengira mereka benar-benar sedang melakukan hal yang mulia.

Para telemarketer sering mengatakan bahwa keuntungan mereka akhirnya digunakan untuk:

 Membeli obat-obatan untuk sejumlah rumah sakit kecil ataupun puskesmas yang terletak di wilayah yang miskin.
 Bantuan beasiswa untuk anak-anak dari keluarga miskin.
 Membeli pakaian dan makanan bagi sejumlah panti jompo dan panti asuhan.
 Biaya pengobatan untuk para penderita sakit ginjal, ataupun penderita kanker yang tidak memiliki biaya pengobatan.

Kenyataannya, tidak ada uang yang akan disumbangkan. Tujuan mereka hanya satu, yaitu menjual produk yang mahal kepada Anda dan mendapatkan keuntungan yang besar untuk diri mereka sendiri.

Liburan Impian

Contoh #4:

Anda mendapatkan surat ataupun email, isinya adalah bahwa Anda telah terpilih sebagai orang yang beruntung untuk mendapatkan sebuah liburan impian. Anda akan mendapatkan perjalanan gratis dengan kapal pesiar mewah.

Nomor telepon yang mereka berikan kepada Anda dalam surat mereka biasanya adalah nomor 1-800-xxx. Begitu Anda menghubungi mereka, mereka akan menceritakan betapa beruntungnya Anda, sebab Anda adalah satu di antara sangat sedikit orang yang bisa mendapatkan liburan impian ke Bahama ataupun Karibia dengan biaya yang sangat rendah dibandingkan dengan biaya yang biasanya harus dibayar oleh turis biasa. Biasanya liburan dengan kapal pesiar ke tempat itu akan berkisar sekitar $2.500. Namun sekarang Anda dapat mengi-kutinya dengan hanya membayar biaya sekitar $388, $488, ataupun $588.

Mereka menekan Anda untuk segera “mengamankan” ataupun “meregistrasi” liburan ini dengan meminta nomor kartu kredit Anda. Mereka mengatakan bahwa biaya ini telah termasuk semua biaya akomodasi menuju dan dari Bahama ataupun Karibia. Mereka juga mengatakan bahwa Anda perlu membayar sekarang juga.

Bila Anda meminta waktu untuk berpikir ataupun surat tertulis dari mereka, respon mereka biasanya adalah:

 Promosi ini adalah sangat terbatas, hanya untuk beberapa orang yang beruntung saja.
 Bila Anda menunggu sampai surat kami sampai ke rumah Anda, tawaran ini pasti sudah habis diambil orang.

Begitu Anda memberikan nomor kartu kredit, Anda akan dialihkan kepada seorang “supervisor”, yang kenyataannya adalah seorang petugas di bagian departemen “verifikasi” mereka, orang yang akan mengkonfirmasikan detail penjualan ini.

Tidak seperti pembicaraan sebelumnya, percakapan Anda dengan petugas verifikasi adalah direkam dalam kaset. Mereka akan menanyakan lagi nomor kartu kredit Anda, menjelaskan secara singkat paker liburan ini, dan mengingatkan kepada Anda bahwa pembelian ini adalah non-refundable.

Nyatanya, sebenarnya biaya yang Anda bayar ini sama sekali bukan untuk biaya perjalanan liburan impian yang Anda bayangkan. Porsi terbesar dari uang ini akan digunakan untuk menggaji pemilik ide dan para telemarketer. Untuk $388, $488, dan $588 yang Anda bayarkan, apa yang akan Anda dapatkan hanyalah sebuah paket berisi video, sejumlah brosur iklan liburan, dan beberapa lembar voucher untuk kapal pesiar Bahama dan Karibia.

Kredit! Kredit!

Contoh #5:

Anda mendapatkan surat ataupun email:

Dengan bersemangat, Anda segera meng-hubungi mereka. Mereka menjanjikan Anda sebuah kartu kredit dari Master Card ataupun Visa, limit sebesar $5.000. Tidak mungkin ditolak, tidak masalah apakah Anda memiliki catatan kredit buruk di masa lalu ataupun tidak.

Mereka menyuruh Anda membayar biaya proses sebesar $149,95 baik dengan debit maupun dengan menggunakan kartu kredit yang sedang Anda miliki.

Setelah itu, mereka akan mengirimkan sebuah paket kepada Anda. Isinya adalah sebuah kartu anggota belanja dan sebuah katolog. Anda disuruh untuk berbelanja minimal $400 untuk barang-barang yang telah di-mark-up di katalog tersebut, setelah itu baru aplikasi kartu kredit Anda dapat diproses.

Setelah Anda berbelanja, akhirnya mereka akan mengirimkan beberapa lembar formulir aplikasi kartu kredit kepada Anda. Anda harus mengurus sendiri aplikasi tersebut, dan “garansi” yang mereka janjikan sebelumnya sama sekali tidak benar.

Contoh #6:

Suatu hari, Anda mendapatkan telepon dari seseorang yang mengaku berasal dari lembaga perbankan negara. Mereka mengklaim bisa membersihkan catatan buruk apapun sehubungan dengan sejarah kredit Anda. Kemudian Anda pun melakukan percakapan dengan mereka:

Anda : “Jadi kalian akan memperbaiki catatan kredit saya?”
Penipu : “Benar sekali. Kami bisa memperbaiki catatan kredit Anda secara legal, tidak masalah seburuk apapun catatan Anda.”
Anda : “Ya, sebenarnya sekarang pun saya sedang bermasalah dengan cicilan ...”
Penipu : “Tidak masalah, apapun yang sedang Anda hadapi, kami sanggup memper-baikinya. Anda bahkan tidak perlu melunasi tagihan dan pajak terhutang sebelumnya.”
Anda : “Jadi sekalipun saya memiliki setumpuk catatan hitam kredit, Anda tetap bisa memperbaikinya?”
Penipu : “Saya ulangi sekali lagi, tidak penting seburuk apapun catatan kredit Anda, kami bisa secara legal menghapus-kannya dari catatan perbankan.”
Anda : “Wah, apa yang sebenarnya kalian lakukan, mencuri komputer mereka?”
Penipu : “Kami menggunakan Undang-Undang Pelaporan Kredit, yang telah disetujui oleh Pemerintah. UU tersebut dapat memaksa perbankan untuk menghapus sejumlah catatan buruk konsumen tentang kredit mereka seandainya pihak perbankan belum memiliki bukti kuat akan kejahatan yang disengajai konsumen.”
Anda : “Ehm…. Seberapa besar harapan untuk berhasil?
Penipu : “Dari pengalaman kami, tingkat keefektifan sistem kami adalah setidaknya 95%, itu pun masih cukup konservatif.”
Anda : “Jadi, apa yang perlu saya lakukan sekarang?”
Penipu : “Anda perlu membayar dahulu biaya aplikasi. Harganya hanya $200. Angka ini tidak ada artinya dibanding dengan manfaat yang bisa Anda terima nantinya.”
Anda : “Kapan saya bisa mendapatkan hasilnya?”
Penipu : “Biasanya kami sudah berhasil membersihkan catatan kredit klien kami dalam waktu 45 hari, walaupun beberapa orang membutuhkan waktu yang lebih lama, seperti enam sampai delapan bulan.”

Bila pembicaraan berlangsung lebih lama, dan Anda kemudian memberikan uang Anda kepada mereka, Anda tidak akan mendengar suara mereka lagi. Tidak ada yang namanya lembaga pembersih catatan kredit konsumen!

Contoh #7:

Anda membaca di koran:

Setelah Anda menelepon mereka, mereka mengatakan bahwa nilai pinjaman maksimal adalah sebesar beberapa ribu dolar. Namun Anda harus membayar biaya aplikasi sebesar beberapa puluh sampai beberapa ratus dolar di muka.

Target dari operasi ini adalah mereka yang sedang dalam krisis finansial, seperti mereka yang sedang kehilangan pekerjaan, orang-orang yang memiliki sejarah kredit yang buruk, ataupun mereka yang sedang kepepet mem-butuhkan uang.

Kenyataannya, walaupun memang setiap proses peminjaman uang akan membutuhkan biaya aplikasi, biaya tersebut tidak perlu dibayar di muka. Anda hanya perlu membayar bila aplikasi Anda telah diterima dan orang yang memberikan pinjaman sudah jelas orangnya.

Untuk kasus di mana biaya aplikasi harus dibayar di muka, maka uang yang Anda bayar akan masuk ke kantong para penipu (agen pinjaman palsu), bukannya masuk ke kantong pemberi pinjaman yang sebenarnya, dan keseluruhan kegiatan loan-brokering ini pada dasarnya adalah penipuan belaka.

Kami Datang Untuk Membantu…

Contoh #8:

Dunia penipu terdiri dari orang-orang yang sering kali sudah saling kenal, alias teman sendiri. Para penipu kemudian pun melakukan jual beli daftar prospek, orang-orang yang telah mereka tipu. Mereka menyadari bahwa ada kecenderungan bahwa orang yang pernah tertipu cenderung untuk bisa kembali ditipu.

Seorang nenek, yang dalam suatu penipuan telemarketing mengalami kerugian yang sangat besar, suatu hari didatangi oleh seorang pemuda dengan penampilan yang rapi. Pemuda tersebut mengaku berasal dari tim investigasi polisi divisi penipuan konsumen. Pekerjaannya adalah mendata kerugian konsumen, mencari para penjahat, dan mengembalikan uang hasil penipuan kepada konsemen.

Untuk jasa tersebut, konsumen perlu mem-bayar sejumlah uang di muka. Nenek tersebut membayar uang muka yang diminta, dan tidak pernah didatangi pemuda tersebut lagi.

Ingat:

Memang benar ada polisi ataupun aparat yang bekerja keras mencari para pelaku penipuan. Namun mereka tidak seharusnya meminta fee apapun kepada para korban, apalagi minta di muka.

Ini Yang Paling Amoral!

Contoh #9:

Sekelompok penipu memiliki spesialisasi untuk mencari rezeki dari orang-orang yang baru meninggal. Tentu saja, mereka tidak men-dapatkan uang dari sang almarhum, mereka mencarinya dari keluarganya.

Beberapa hari setelah upacara pemakaman, para penipu akan mendatangi keluarga tersebut dan menunjukkan tagihan bahwa sang almarhum beberapa minggu lalu sempat membeli barang dari mereka dan belum melunasinya. Mereka berbicara dengan penuh empati dan turut berduka cita atas kematian almarhum.

Biasanya tagihan mereka tidak amat besar, dan pihak keluarga korban dalam suasana itu akan cenderung membayar tagihan yang diminta.

Berbagai Taktik Penekanan

Contoh #10:

Para telemarketer tidak selalu bicara dengan cara yang simpatik. Bila dibutuhkan, mereka juga bisa bicara dengan penuh tekanan dan paksaan. Suatu ketika, Anda akan mendengar kata-kata semacam ini:

 Cukup! Kamu adalah seorang pengusaha. Kamu membuat keputusan setiap hari. Kamu tidak menjadi kaya karena sifat ragu-ragumu. Sekarang putuskanlah, mari kita transaksi!
 Kesempatan ini hanya untuk jumlah orang yang sangat terbatas!
 Menunda berarti Anda akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan karena pasar sedang bergerak dengan kencang.
 Kesempatan ini hanya akan tersedia sampai hari ini. Besok pasti sudah tidak ada lagi.
 Sekarang pergilah ke bank. Ambil uangnya dan segera hubungi saya!
 Tidak ada uang? Pinjamlah dengan orang! Kamu bisa membayarnya nanti dengan keuntungan yang akan kamu dapatkan.

Penerbit Gadungan

Contoh #11:

Sejumlah orang selalu bermimpi untuk menjadi seorang penulis. Mereka mengira para penulis buku adalah orang-orang yang memiliki kecerdasan dan kemampuan luar biasa. Orang-orang ini tidak menyadari kenyataan bahwa penulis buku hanyalah orang biasa, bedanya adalah mereka bersedia menuliskan cerita-cerita ataupun pengetahuan yang mereka ketahui untuk dibagikan kepada orang lain.

Para penipu yang melihat kesempatan ini, mengiklankan kesempatan ini di berbagai media lokal dan mulai mencari penulis berbakat di masyarakat. Anda mungkin pernah membaca:

Setelah Anda menghubungi mereka, mereka akan menyuruh Anda memberikan naskah untuk dibaca oleh “redaktur” mereka. Setelah beberapa minggu, mereka akan menghubungi Anda, mengatakan bahwa naskah Anda cukup bagus.

Perbedaan penerbit yang legal dan gadungan adalah apa yang mereka katakan setelah naskah Anda dianggap bagus…

Penerbit gadungan menjanjikan royalti tertentu kepada Anda, namun mereka juga mengatakan kepada Anda bahwa sebelum naskah Anda bisa diterbitkan, naskah Anda perlu diedit terlebih dahulu. Biaya edit per halaman adalah Rp xxx, yang harus Anda bayar di muka. Selain itu, Anda juga harus membayar berbagai biaya tambahan sebelum buku Anda bisa diterbitkan dan dijual di pasaran.

Bila Anda ternyata cukup naif dan mempercayai mereka, habislah uang Anda. Kenyataannya, penerbit gadungan nyaris tidak pernah menolak naskah, kecuali naskah Anda benar-benar sedemikian buruknya dan tidak mungkin diedit oleh “redaktur” mereka.

Tidak ada yang namanya penulis membayar penerbit. Penerbitlah yang seharusnya membayar penulis! Memang benar ada yang namanya biaya edit naskah, namun itu adalah bagian dari ongkos produksi penerbit, bukan beban penulis.

Di Indonesia, penulis buku biasanya bisa mendapatkan royalti antara 8% sampai 15% dari harga jual buku, tergantung kesepakatan bersama.

Agen Hak Paten Palsu

Contoh #12:

Setiap tahun, puluhan ribu manusia cerdas yang berhasil menemukan teknologi ataupun ide baru bercita-cita untuk mendapatkan hak paten atas penemuan mereka.

Memang ada sejumlah perusahaan legal yang menawarkan jasa hak paten ataupun penjualan penemuan ke berbagai manufaktur untuk komersialisasi penemuan tersebut.

Sayangnya, ada juga perusahaan yang diciptakan dan dikelola oleh mereka-mereka yang tidak punya itikad baik, alias para penipu.
Para agen-agen palsu ini, selain secara bersemangat membujuk para penemu men-daftarkan hak paten mereka, tentu saja dengan membayar terlebih dahulu, mereka juga membuat klaim palsu dan berlebihan atas prospek potensial pasar yang bisa dilayani oleh penemuan baru para langganannya. Setelah menerima bayaran, mereka tidak selalu menghubungi manufaktur untuk menjual penemuan klien mereka, lebih seringnya, uang yang mereka terima mereka gunakan untuk membayar diri sendiri dan sejumlah karya-wannya.

Kenyataannya, sangat sedikit penemuan baru yang akhirnya sukses di pasar setiap tahun, dan sebuah hak paten tidak selalu meningkatkan kemungkinan sukses Anda di pasar komersial.


Menjual Copyright

Contoh #13:

Beberapa tahun yang lalu, saat saya sedang di sebuah toko majalah, saya melihat sebuah majalah asing, judulnya Small Business Opportunities (SBO), saya membaca beberapa halaman darinya, dan terkesan dengan salah satu tawarannya:

Di iklan itu, pemiliknya mengatakan hal-hal semacam ini:

 “Bila Anda memang menginginkan uang gampang yang banyak, inilah caranya. Tidak ada cara yang lain!”
 “Beberapa tahun terakhir ini, saya menjual manual dengan topik yang diinginkan masyarakat dengan harga yang terjangkau, antara $15 sampai $50 per manual. Saya mengiklankan diri di berbagai majalah di seluruh negeri ini.”
 “Biaya produksi per manual sangatlah rendah, cuma beberapa puluh sen, keuntungan dari bisnis ini adalah sangat luar biasa.”
 “Keuntungan per bulan yang bisa Anda dapatkan setidaknya mencapai beberapa ribu dolar, minimal!”
 “Karena keberhasilan saya, saat ini saya adalah pembicara dengan harga per jam yang sangat tinggi, saya tidak perlu lagi menggeluti bisnis penjualan manual.”
 “Saya akan membatasi pembeli dari copyright manual saya. Tentunya saya tidak ingin melihat persaingan yang terlalu besar karena banyaknya penjual manual yang sama di negeri ini. Hanya Anda yang bereaksi cepatlah yang akan mendapatkannya. Bagi yang terlambat, saya akan mengembalikan uang Anda.”
 “Hubungi saya sekarang! Anda akan kaya lewat usaha penerbitan ini.”

Di kemudian hari, saya baru tahu bahwa ternyata manual yang dia maksud terdiri dari informasi-informasi umum tentang motivasi, keuangan, dan pengembangan diri yang tersedia secara berlimpah di berbagai toko buku.

Menurut pengakuan dari orang-orang yang membeli copyright dari pemasang iklan tersebut, manual-manual yang mereka cetak tidaklah gampang dijual, banyak orang lebih cenderung membaca buku-buku pengembangan diri klasik di toko buku daripada manual mereka. Klaim bahwa dia akan mengembalikan uang bagi orang yang membeli belakangan juga tidak terbukti!

Pelajarannya:

Bukan karena Anda membaca sebuah tawaran dari sebuah majalah ataupun koran yang legal, lantas apa yang Anda baca otomatis juga pasti legal dan jujur. Majalah dan koran tidak akan memverifikasi kejujuran jenis usaha yang membeli ruang iklan dari mereka. Lebih sering daripada tidak, pihak majalah dan koran sendiri juga tidak tahu apa sebenarnya yang dilakukan oleh customer mereka, para pemasang iklan.

Mungkin Anda masih ingat, beberapa tahun yang lalu, sebuah perusahaan yang mengaku dari Jepang, kalau tidak salah namanya G-Cosmos. Mereka memasang iklan besar-besaran hampir setiap hari di koran terbesar di Indonesia, Kompas. Mereka menawarkan kesempatan investasi dengan imbal hasil 10% sampai 30% dari investasi kita. Alamat mereka juga terletak di salah satu gedung perkantoran elit di Jakarta, yang mereka SEWA tentunya. Beberapa bulan setelah itu, perusahaan itu hilang entah ke mana… Investor tidak cuma rugi, tetapi juga terpukul secara psikologis karena kebodohan yang telah mereka lakukan.


Melipat Amplop, plop, plop…

Contoh #14:

Apakah Anda pernah membaca iklan ini?

Untuk orang yang pertama kali membaca, bayangan kita adalah kita akan dikirimkan sekotak brosur bersamaan dengan amplop, kita melipat brosur/kertasnya, masukkan ke amplop, kirimkan ke mereka, dan, yes…, mereka akan membayar kita.

Namun, kenyataannya tidaklah sedemikian sederhana… Ada dua skenario umum dari apa yang akan terjadi:

Pertama, Anda akan menerima kiriman dari mereka, isinya adalah sejumlah brosur dan pesan untuk menyuruh Anda memasang iklan di koran lokal Anda dengan isi yang persis sama dengan iklan yang Anda baca. Ya, benar, Anda harus mencari peserta baru dari program ini. Di iklan yang Anda pasang, Anda perlu menekankan bahwa mereka perlu menyertakan sebuah amplop beserta perangko bila ingin dibalas.

Uang dari pembaca harus disetor kembali ke pemilik program, sedangkan yang Anda kem-balikan ke pengirim adalah amplop mereka beserta brosur yang sudah Anda lipat. Untuk setiap amplop yang Anda kirim, Anda akan dibayar $2 seperti yang sudah mereka janjikan….
Skenario kedua, mereka akan mengirim sejumlah brosur umum dan amplop kepada Anda, dan mengatakan bahwa Anda akan dibayar bila pelipatan dan penyusunan amplop Anda memenuhi standar mereka. Biaya pengiriman kembali adalah ongkos Anda sendiri. Akhirnya, tentu saja, tidak akan ada hasil kerja Anda yang memenuhi standar mereka. Tidak akan ada bayaran dari mereka.

Ingatlah satu hal, membayar orang untuk melipat kertas dan memasukkannya ke amplop adalah gagasan yang gila, bila Anda sendiri tidak akan melakukannya, orang lain juga tidak. Jangan mempercayai iklan-iklan seperti itu. Sudah ada mesin yang dirancang khusus untuk melakukan pekerjaan itu, harganya juga jauh lebih murah dibanding dengan membayar tenaga manusia.

Membaca & Menjadi Kaya???

Contoh #15:

Seseorang menelepon ataupun mengirim surat kepada Anda, katanya mereka mewakili sejumlah penerbit buku di negeri ini. Mereka mengklaim para penerbit bersedia membayar bila Anda membaca buku yang akan mereka terbitkan dan memberi komentar sebelum buku tersebut naik cetak. Anda akan dibayar berdasarkan jumlah kata yang ada dalam buku itu.

Biaya untuk menjadi “pembaca professional” adalah Rp. 75.000,- Anda hanya perlu membayar sekali dan akan menjadi anggota klub mereka seumur hidup.

Apa yang akan Anda terima nantinya adalah sekumpulan nama Penerbit di Indonesia, sebagian ada alamatnya, sebagian lagi bahkan tidak ada alamatnya. Bila Anda menghubungi penerbit yang bersangkutan, Anda baru sadar bahwa tidak ada lowongan untuk menjadi pembaca profesional.

Beasiswa Untuk Buah Hati Anda

Contoh #16:

Biaya pendidikan yang semakin lama semakin tinggi adalah fenomena di berbagai negara, bukan cuma Indonesia. Sejumlah telemarketer yang jeli melihat hal ini sebagai sebuah kesempatan penipuan yang menjanjikan.

Beberapa dari mereka mulai menelepon ataupun menyurati Anda, mereka mengklaim bahwa mereka berasal dari organisasi non-profit. Misi mereka adalah membantu pemerintah mencerdaskan kehidupan bangsa.

Mereka menjanjikan Anda bahwa apapun keadaan dan prestasi dari anak Anda, dia dapat memperoleh beasiswa, baik dari pemerintah, Bank Dunia, IMF, ataupun berbagai perusahaan swasta besar lainnya. Mereka mengklaim bahwa setiap tahun organisasi-organisasi ini me-nyediakan milyaran dolar untuk membantu para anak sekolahan maupun mahasiswa di seluruh dunia untuk mendapatkan beasiswa. Yang Anda perlukan untuk mendapatkannya hanyalah akses. Merekalah aksesnya!

Supaya anak Anda dapat memperoleh beasiswa, hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah mendaftarkan anak Anda di program aplikasi mereka. Biayanya berkisar beberapa ratus sampai ribuan dolar. Seandainya beasiswa anak Anda ditolak, uang yang Anda bayarkan akan dikembalikan.

Tentu saja, jangan harap Anda akan mendapatkannya. Untuk uang yang telah Anda bayar, apa yang kemudian akan Anda dapatkan adalah sebuah daftar berisi alamat-alamat sekolah dan universitas yang menawarkan beasiswa. Semua proses aplikasi harus Anda lakukan sendiri. Sama sekali tidak akan ada bantuan dari mereka. Beberapa alamat yang mereka berikan bahkan adalah fiktif.


Pekerjaan Impian

Contoh #17:

Iklan-iklan semacam ini menarik perhatian dari jutaan orang di dunia, semuanya dengan cita-cita yang sama: mendapatkan penghasilan yang lebih besar dan mendapatkan kesempatan untuk mengelilingi dunia.

Sayangnya, cita-cita dan harapan inipun adalah kesempatan bisnis bagi sejumlah tele-marketer amoral. Mereka biasanya menagih biaya pendaftaran sebesar beberapa puluh dolar sampai ke ratusan dolar untuk “jasa” mereka.

Untuk biaya yang Anda bayar, nantinya Anda akan mendapatkan sebuah paket, isinya adalah deskripsi tentang alamat dari para perusahaan kapal pesiar dan tips untuk melamar ke sana. Semua biaya dan proses aplikasi adalah tanggung jawab Anda sendiri.

Ada juga kasus di mana para telemarketer mendapatkan sebuah pekerjaan untuk Anda, baik benar-benar di kapal pesiar maupun di tempat lainnya (darat), mereka akan mengatakan kepada Anda bahwa ada biaya lainnya yang perlu Anda bayar: Visa, tiket, akomodasi, dll. Semua biaya tersebut sudah di mark-up secara drastis. Gaji Anda nantinya juga akan dipotong untuk mereka. Pada akhirnya, angka final yang harus Anda bayar mencapai ribuan dolar! Mereka tidak mengata-kannya sebelumnya…

Warisan Terkutuk…

Contoh #18:

Sebuah jam dinding yang mati sekalipun bisa menunjukkan waktu secara akurat dua kali dalam sehari, apalagi kata-kata orang yang hidup. Semakin banyak kata-kata dan kemungkinan yang diucapkan, semakin besar kemungkinannya untuk “akurat.”

Inilah yang dimanfaatkan oleh sejumlah penipu dengan kedok peramal (Saya tidak mengatakan semua peramal adalah penipu, maksud saya ada penipu yang menyamar sebagai peramal).

Target dari para penipu yang menyamar sebagai peramal ada banyak sekali, berikut adalah salah satu ilustrasi:

Seorang wanita yang tampak bingung dan sedih mencari bantuan dari seorang peramal jalanan yang dia temui. Setelah bincang-bincang, peramal tersebut bertanya kepada wanita tersebut apakah akhir-akhir ini dia mendapatkan sejumlah uang dadakan? Setelah berpikir sejenak, wanita tersebut mengakui bahwa dua bulan lalu dia mendapatkan sejumlah warisan dari orang tuanya yang baru meninggal.

Peramal tersebut langsung beraksi, dia mengatakan bahwa uang tersebut datang dari sumber yang kurang “bersih”, ada kemungkinan uang tersebut didapat dengan cara yang kurang baik. Dia mengatakan bahwa uang tersebut harus segera dibersihkan, dia pun menyuruh wanita tersebut mengambil uang dari bank dan membawa kepadanya. Setelah sejumlah upacara, peramal mengatakan bahwa sebagian uang tersebut harus disumbangkan ke berbagai yayasan sosial, sebagian lagi harus dikubur di dalam tanah selama beberapa minggu, sisanya baru bisa digunakan. Bila tidak, nasib buruk akan terus menghantui wanita tersebut.

Uang yang ditanam di dalam tanah ini tentunya tidak akan terlalu lama di dalam tanah. Setelah wanita yang kebingungan itu pergi, peramal tersebut juga akan pergi, bersamaan dengan uang yang dia gali dari tanah tersebut.


Bintang Muda Berbakat

Contoh #19:

Berbagai acara reality show yang kita lihat di televisi beberapa tahun terakhir ini telah menjadi inspirasi bagi sejumlah perusahaan pencarian bakat gadungan untuk mengail di air keruh.

Orang tua manapun berharap anak mereka bisa menjadi terkenal, muncul di televisi, dan syukur-syukur sudah menghasilkan banyak uang di saat umur mereka masih kecil.

Beberapa penipu kemudian mendirikan perusahaan pencarian bakat. Mereka mengklaim bahwa mereka telah bekerja sama dengan berbagai Production House dan sudah meng-orbitkan beberapa bintang muda berbakat. Foto dari beberapa bintang baru dipajang di kantor mereka untuk membuat orang tua anak terkesan.

Mereka menawarkan kepada orang tua anak untuk mengikutkan anak mereka ke dalam program pelatihan akting dan modeling mereka, tentu saja dengan biaya kursus setinggi langit. Bila anaknya berhasil, kontrak dengan beberapa PH ternama tinggal menunggu waktu.

Sesungguhnya, yang mereka lakukan kemudian adalah menyewa sejumlah aktor amatiran dan beberapa guru self-development yang kurang profesional untuk mendidik anak-anak dari klien mereka. Di akhir pelatihan, tidak akan ada anak-anak tersebut yang akan mendapatkan kontrak dari PH.


Not-So-Secure Securities…

Contoh #20:

Sebenarnya aneh juga, dalam bahasa Inggris: saham, obligasi, dan berbagai produk-produk derivatif di pasar modal disebut dengan securities. Kenyataan yang kita ketahui, produk-produk seperti ini sangatlah jauh dari aura “aman (secure).”

Penipu tidak selalu mengoperasikan skala perusahaan mereka dalam lingkup kecil. Ada juga penipuan skala yang lebih besar, sangat besar. Anda masih ingat skandal Enron dan WorldCom?

Ya, dua yang barusan adalah penipuan skala raksasa. Kita lihat yang lebih kecil saja. Anda tahu nama-nama berikut ini?

 Concept Technologies Group Inc.
 Diamond Entertainment Corp.
 First Chesapeake Financial Corp.
 Futurebiotics Inc.
 Immunotherapeutics Inc.
 International Franchise System Inc.
 Las Vegas Entertainment Network Inc.
 Officeland Inc.
 Red Hot Concepts Inc
 Sanyo Industries Inc.
 U.S. Transportation Systems Inc.
 International Thoroughbred Breeders Inc.

Mereka semuanya terdaftar di NASDAQ, QTC, dan AMEX sebagai perusahaan publik. Namanya juga keren-keren, bukan begitu?

Selama tiga tahun, perusahaan-perusahaan di atas telah menyebabkan kerugian sebesar lebih dari US$106 juta uang investor yang mempercayai rekomendasi dari mereka untuk melakukan pembelian ataupun penjualan saham.

Contoh #21:

Bagaimana kalau seseorang mengatakan dia bisa menebak secara pasti gerakan dari suatu saham ataupun indeks saham tertentu? Apakah Anda mempercayainya?

Suatu hari, Anda mendapatkan telepon dari seseorang yang mengaku berasal dari perusahaan investasi pribadi. Dia mengklaim perusahaannya memiliki tim research yang kompeten dan profesional, bahwa analisa mereka memiliki tingkat keakuratan yang sangat tinggi.

Tentu saja, siapapun akan sinis dan skeptis dengan klaim seperti ini pada awalnya. Selama berminggu-minggu, orang ini akan terus menerus menghubungi Anda untuk memberikan rekomendasi tertentu.

Suatu hari, mereka menghubungi Anda, mengatakan bahwa minggu ini indeks Hang Seng akan naik. Satu minggu berlalu, indeks Hang Seng ternyata memang naik.

Beberapa hari lagi, mereka kembali menghubungi Anda, katanya indeks Hang Seng masih akan naik minggu ini. Anda menunggu, dan mereka benar. Indeks memang naik.

Dua minggu kemudian, mereka mengatakan kepada Anda indeks akan turun. Anda kembali menunggu, kali ini sudah mulai serius… Indeks memang turun minggu itu! Anda menjadi bersemangat dan ingin mendengar lebih banyak. Sudah saatnya untuk invest! Waktunya telah tiba untuk untung besar!

Anda tahu apa yang sebenarnya dilakukan orang itu? Bagaimana mungkin dia bisa begitu akurat? Ada banyak teknik untuk berbohong, salah satunya adalah ini:

Mula-mula, mulailah dengan mencari 200 prospek orang berduit. Katakan kepada 100 orang bahwa indeks akan naik, katakan kepada 100 lainnya bahwa indeks akan turun. Setelah 1 minggu, bila indeks naik, coret 100 nama yang kemarin Anda hubungi bahwa indeks akan turun, mereka tidak akan percaya lagi.

Ulangi proses ini, dari sisa 100 orang, katakan kepada 50 orang indeks akan naik, katakan kepada 50 orang lainnya indeks akan turun. Bila indeks masih naik dalam kurun waktu itu, coret lagi 50 orang yang berada di daftar indeks turun.

Di percobaan ketiga, Anda memiliki 50 orang prospek, katakan kepada 25 orang bahwa indeks akan naik, katakan lagi kepada 25 orang sisanya bahwa indeks akan turun. Di akhir percobaan, Anda akan mendapatkan 25 orang yang akan menganggap Anda sebagai Dewa Saham. Mendapatkan dana dari mereka tidak akan terlalu sulit lagi…

Bila Anda terkagum-kagum atas keakuratan mereka, berarti Anda adalah salah satu dari ke-25 prospek yang “beruntung” itu.

Setelah itu, perusahaan itu akan mengajak Anda untuk bergabung dengan mereka. Keuntungan yang didapatkan akan dibagi sesuai kesepakatan bersama. Kadang-kadang, dana yang Anda setor benar-benar digunakan untuk perdagangan saham ataupun derivatifnya. Namun, cukup sering juga, dana yang Anda setor akan menjadi sumber uang untuk membiayai kehidupan ekstra mewah mereka.


Genius Real Estate

Contoh #22:

Stephen Murphy, mengklaim dirinya sebagai pengganti Donald Trump di Amerika. Dia menulis buku “One Up On Trump”, dan juga 10 buku lainnya tentang real estate dan motivasi.

Dalam buku-buku, iklan, dan seminarnya, dia menggambarkan dirinya sebagai veteran perang Vietnam dan pemabuk yang berhasil menjadi kaya lewat bisnis real estate. Kekayaannya dibangun lewat perusahaannya, American Capital Investments Inc.

Apa yang sebenarnya dia lakukan? Dia mengumpulkan uang dari publik untuk membeli gedung-gedung komersial dan perkantoran, dengan menyembunyikan fakta tentang transaksinya. Sering kali dia menyatakan bahwa sudah ada pembeli berikut yang sedang antri untuk membeli dan para investor yang menyetor uang kepadanya akan mendapatkan keuntungan bahkan dalam waktu kurang dari 30 hari. Dia juga berulang kali memisrepresentasikan keuntungan dari bangunan yang dia beli, dan kadang-kadang menjual kepada publik porsi-porsi bangunan yang bahkan tidak dia miliki.

Dengan buku-buku yang dia tulis, beserta dengan seminar yang dia lakukan, dia berhasil mengumpulkan lebih dari $18 juta. Investornya pada akhirnya kehilangan lebih dari $10 juta.

Genius ini akhirnya dinyatakan bersalah atas enam jenis tuntutan, sayangnya uang investor tidak dapat dikembalikan seluruhnya lagi.
Pesulap Jalanan

Contoh #23:

Seorang wanita setengah baya sedang jalan di sebuah Mall, kemudian seorang Ibu muda menghampirinya dengan ramah. Mereka kemudian mulai berteman, berngobrol dengan akrapnya.

Setelah itu, seorang wanita muda lainnya datang mencari pemilik dari sebuah tas yang dia pegang. Mereka bertiga pun membuka tas itu, ternyata tas itu berisi setumpuk uang tunai.
Mereka mulai bingung apa yang harus mereka lakukan, namun tentu saja mereka ingin membagi uang tersebut.

Tentu saja, kedua wanita muda itu adalah teman sekongkolan, misi mereka adalah menjebak wanita tua itu untuk mendapatkan sejumlah uang darinya.

Salah satu wanita muda mengaku dia bekerja di perusahaan pengacara. Dia mengambil teleponnya dan mulai menghubungi kantornya. Setelah itu, dia mengatakan bahwa menurut hukum, bila mereka mau membagi uang tersebut, mereka harus bisa membuktikan bahwa mereka masing-masing memiliki cukup banyak uang untuk “menghidupi diri sendiri” saat pengacara mencoba mencari pemilik yang sebenarnya. Katanya, pengacara di kantornya merekomendasikan mereka agar masing-masing menyetor sejumlah uang tertentu untuk membuktikan itikad baik dan sebagai bukti bahwa mereka memang memiliki cukup uang untuk bertahan selama masa tunggu.

Maka mereka pun pergi ke ATM dan mengambil sejumlah uang. Uang itu mereka campur bersama uang di tas yang mereka temukan. Setelah itu, dengan ketrampilan lapangan yang telah mereka latih, kedua wanita muda itu akan mengganti tas itu dengan tas lainnya yang serupa yang sudah mereka siapkan sebelumnya. Wanita tua itu, akhirnya akan disuruh menyimpan tas palsu yang berisi kertas-kertas bekas. Setelah sampai di rumah, wanita tua itu baru sadar telah ditipu…


Nigerian Fraud

Contoh #24:

Skema penipuan ini membidik warga kelas menengah, usia pertengahan, para pengusaha ataupun profesional yang biasanya lebih sulit ditipu. Nilai kerugian yang disebabkan skema ini diperkirakan mencapai $1 juta setiap hari di Amerika Serikat saja, belum termasuk negara lain. Anda harus hati-hati bila mendapat fax, email, ataupun surat seperti contoh berikut:

Lagos, Nigeria
Kepada : Pimpinan Perusahaan / CEO xxx-xxx Yang Terhormat,

Proposal Rahasia

Setelah berkonsultasi dengan sejumlah rekan saya dan informasi yang saya dapatkan dari Kamar Dagang dan Industri Nigeria, saya memutuskan untuk meminta bantuan Anda agar kami dapat mentransfer dana sebesar US$50.000.000,- (lima puluh juta dolar Amerika) ke rekening Anda.

Dana di atas adalah akibat tagihan ganda yang kami lakukan terhadap sebuah kontraktor luar negeri sekitar lima tahun lalu. Dana tersebut kemudian ditahan oleh Bank Sentral Negeria sejak saat itu.

Sekarang dana itu sudah dapat ditransfer ke luar negeri dan untuk itulah kami membutuhkan Anda. Sangatlah penting untuk diketahui bahwa kami sebagai warga negara Nigeria tidak diperkenankan untuk memiliki rekening di luar negeri. Dana yang akan kami transfer akan dibagi dengan komposisi berikut: 70% untuk kami, 25% untuk Anda, dan 5% untuk berbagai biaya lokal maupun internasional yang akan keluar akibat proses transfer ini.

Namun, menurut hukum yang berlaku di Nigeria, untuk melaksanakan transfer ini, Anda perlu membuka dahulu sebuah rekening di Nigeria dengan saldo minimal US$100.000,-

Bila Anda setuju dengan kesepakatan ini, kami sangat menantikan kehadiran Anda di Lagos, dan saat itu saya akan memperkenalkan Anda kepada representatif dari NNPC, termasuk juga para pejabat di Bank Sentral Nigeria.

Tolong hubungi kami secepatnya di nomor xxx-xxx. Waktu adalah hal yang sangat penting bagi kami untuk menyelesaikan proses transfer ini secepatnya.

Hormat Kami,
Dr Albu Arhu


Ada berbagai skenario untuk memancing Anda mengeluarkan uang. Untuk keamanan Anda, hal yang paling penting untuk Anda ingat adalah bahwa apapun yang mereka katakan, Anda tidak perlu mendengarkannya. Tidak usah menggubris surat ataupun email seperti ini.

***

Masa Lalu Yang Terlupakan

 
 
 
 
 
Tidak semua orang akan percaya dengan apa yang saya tulis di blog ini. Wajar-wajar saja, karena saya memang bukan siapa-siapa.

Karena itu bacalah kutipan-kutipan dari orang-orang di bawah ini, dan pikirkanlah apakah mereka semua adalah orang-orang yang tidak memahami apa yang sedang mereka bicarakan...


Di Amerika kami menerbitkan uang kami sendiri. Kami menyebutnya Colonial Scrip. Kami menerbitkannya sesuai dengan proporsi permintaan dari perdagangan dan industri yang memproduksi semua barang dari produsen ke konsumen. Dengan mengendalikan mata uang kami sendiri, kami mengendalikan daya beli mata uang kami, dan kami tidak berhutang kepada siapapun.”
- Benjamin Franklin, salah satu Bapak kemerdekaan Amerika, 1764–


Biarkan saya yang mengontrol uang sebuah negara, maka saya tidak peduli siapa yang menulis hukum di negara tersebut.”
- Mayer Amchel Rothschild. 1790 –


Bila pemerintah tergantung pada para bankir untuk mendapatkan uang, maka bankirlah dan bukan pemerintah yang sedang memegang kendali. Tangan yang memberi di atas tangan yang menerima. Uang tidak mengenal nasionalisme, para bankir tidak memiliki patriotisme, satu-satunya tujuan mereka adalah keuntungan.”
- Napoleon Bonaparte, 1800 –


Bila rakyat Amerika mengizinkan perbankan swasta untuk mengontrol uang dari mereka, pertama-tama lewat inflasi dan kemudian dengan deflasi, bank-bank dan korporasi yang mengelilinginya akan memisahkan rakyat Amerika dari properti mereka, sampai suatu hari anak-anak mereka akan bangun dari tidur tanpa rumah di atas tanah yang ditaklukkan oleh leluhur mereka.”
- Thomas Jefferson, Presiden Amerika, 1802 -


Saya tidak peduli siapa boneka yang akan dipilih menjadi Raja Inggris untuk memimpin kekaisaran yang mana mataharinya tidak pernah terbenam. Orang yang mengontrol suplai uang Inggris mengendalikan kekaisaran Inggris, dan sayalah yang mengontrol suplai uang Inggris.”
- Nathan Mayer Rothschild, 1815 -


Kalian (bankir internasional) para penjahat busuk, saya akan mengusir kalian, demi Tuhan, saya akan mengusir kalian.
- Andrew Jackson, Presiden Amerika, 1833


Bila anak-anaku tidak menginginkan perang, maka tidak akan terjadi perang.”
- Gutle Schnaper, Ibu dari Rothschild bersaudara, 1849 -


Sejak saya bertugas di sini, saya mulai menyadari ternyata pemerintah tidak berkuasa atas masalah finansial. Mereka memang tidak direncanakan untuk berkuasa, pekerjaan sebenarnya mereka adalah melindungi dan menutupi “Kekuatan Kaya.”"
- William Gladstone, Perdana Menteri Inggris, 1852 –


Pemerintahlah yang seharusnya mencetak dan mengedarkan uang sesuai dengan kemampuan belanja dari pemerintah dan daya beli dari masyarakat. Dengan mengadopsi prinsip ini, rakyat bisa dibebaskan dari bunga pajak yang sangat memberatkan. Uang akan menjadi pelayan manusia, bukan majikannya.”
- Abraham Lincoln, Presiden Amerika, 1862, menerbitkan dolar greenbacks, uang bukan hutang kepada bank sentral, mati ditembak 1865 –


Siapa yang mengendalikan volume uang di sebuah negara adalah tuan sebenarnya dari industri dan perdagangan… dan ketika Anda sadar bahwa keseluruhan sistem ini sebenarnya mudah untuk dikendalikan, oleh sekelompok kecil orang di atas, Anda tak perlu diberitahu lagi dari mana datangnya periode deflasi dan depresi.”
- James Garfield, Presiden Amerika, 1881, mati ditembak –


Di satu sisi ada sekelompok orang yang memegang kekuasaan karena mereka memiliki kekayaan besar, yang mengendalikan semua pekerja dan perdagangan, yang memanipulasi untuk kepentingan pribadi semua suplai uang, yang bahkan lebih berpengaruh daripada pemerintah sendiri, di sisi yang lain ada sekelompok besar lainnya yang tidak berdaya dan hidup menderita. Bunga pinjaman (riba), yang sudah berkali-kali dilarang oleh Gereja, masih dipraktekkan hari ini walaupun dengan bentuk yang berbeda, supaya sekelompok kecil orang kaya bisa mendapatkan keuntungan dari orang miskin yang hidup hanya sedikit lebih baik dibanding seorang budak.
- Paus Leo XIII, 1898 –


Kecuali kami mendapatkan hak pendirian Bank Sentral dengan kendali kredit yang kuat, bila tidak negara ini akan menjalani penderitaan dan kepanikan finansial terbesar dalam sejarahnya.”
- Jacob Schiff, 1907 –


Kita telah menjadi salah satu pemerintahan terburuk yang ada dalam peradaban, bukan lagi pemerintahan yang memiliki kebebasan berpendapat, bukan lagi pemerintahan yang dijalankan oleh mayoritas suara, tetapi sebuah pemerintahan yang didominasi oleh sekelompok kecil orang. Sebagian orang-orang besar di Amerika, di dunia perdagangan dan manufaktur, sedang takut akan sesuatu. Mereka tahu ada sebuah kekuatan yang begitu terorganisir, begitu tak terlihat, begitu rumit, yang mana mereka sebaiknya tidak bicara terlalu keras kalau ingin mengutukinya.
- Woodrow Wilson, Presiden Amerika, 1916 –


Para bankir Internasional dan Standard Oil Rockefeller mengendalikan mayoritas surat kabar dan mereka mengusir para pegawai yang menolak bersekongkol untuk menutupi korupsi dan kekuatan tak terlihat mereka di pemerintahan.”
- Theodore Roosevelt, Presiden Amerika, 1919 -


Pendirian sebuah bank sentral adalah 90% dari usaha mengkomuniskan sebuah negara.”
- Vladimir Lenin, 1919 -


Bila sebuah negara bisa menerbitkan surat hutang, maka dia juga bisa menerbitkan mata uang. Elemen yang membuat sebuah surat hutang baik, juga akan membuat mata uangnya baik… Benar-benar gila mengatakan sebuah negara bisa menerbitkan 30 juta dolar surat hutang tetapi tidak boleh menerbitkan 30 juta dolar mata uang. Dua-duanya adalah janji untuk membayar, tetapi yang satu menguntungkan si pemberi riba, satunya lagi menguntungkan rakyat banyak.”
- Thomas Alfa Edison, salah satu penemu terbesar abad XX, 1921 –


Penguasa sebenarnya dari Republik ini adalah Standard Oil Rockefeller bersama sekelompok kecil bankir internasional. Kelompok ini menjalankan pemerintahan Amerika demi kepentingan pribadi mereka. Mereka mengontrol kedua belah partai politik, menulis platform politik, dan menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin… Mereka mengontrol mayoritas surat kabar dan majalah di negeri ini.
- John Hylan, Walikota New York, 1922 –


Saya manusia yang paling tidak bahagia di dunia. Saya secara tak sengaja telah menghancurkan negaraku.”
- Woodrow Wilson, mengenai keputusannya mensahkan bank sentral Federal Reserve 11 tahun sebelumnya, 1924 –


Inggris adalah budak dari kekuatan finansial internasional.
- David Lloyd, Mantan Perdana Menteri Inggris, 1934 –


Kami tidak cukup bodoh untuk mencoba menciptakan sebuah mata uang yang dibacking oleh emas, yang memang tidak kami miliki lagi, tetapi setiap Mark yang akan kami cetak akan dibacking oleh pekerjaan dan barang yang nilainya setara… kami tertawa saat ahli finansial nasional memandang bahwa nilai dari sebuah mata uang adalah tergantung kepada emas dan sekuritas lain yang berada di ruangan besi bank.”
- Adolf Hitler, menerbitkan Labor Treasury Certificate, uang bukan hutang kepada perbankan, dan Jerman pun dihancurkan secara besar-besaran dalam perang dunia II -


Kekuatan dari kapitalisme finansial memiliki sebuah rencana yang lebih jauh, yaitu menciptakan sebuah sistem finansial dunia yang dikendalikan oleh tangan swasta yang mana orang-orang ini juga dapat mendominasi sistem politik dan ekonomi dari setiap negara secara keseluruhan. Sistem ini akan dikendalikan dengan model feodal oleh bank sentral di seluruh dunia yang menjalankan rencana ini secara bersama-sama. Setiap bank sentral… berencana untuk mendominasi pemerintahannya lewat kemampuannya untuk mengendalikan pinjaman, memanipulasi nilai tukar, mempengaruhi tingkat aktivitas perekonomian, dan mempengaruhi para politisi kooperatif dengan memberikan imbalan ekonomi di dunia bisnis.”
- Carrol Quigley, Sejarahwan, mentor Bill Clinton di kemudian hari, 1975 –


Sistem perbankan modern menciptakan uang tanpa modal. Proses ini kemungkinan adalah ciptaan paling luar biasa yang pernah ditemukan. Perbankan dilahirkan dalam ketidaksetaraan dan dosa. Bankir memiliki dunia. Anda bisa mengambil apapun dari mereka, tetapi biarkan hak untuk menciptakan uang di tangan mereka, maka dengan sebatang pena mereka akan menciptakan cukup uang untuk membeli semuanya kembali… Ambillah kekuasaan besar ini dari tangan mereka maka semua kekayaan besar seperti yang saya miliki akan lenyap, dan akan ada sebuah dunia yang lebih baik untuk hidup. Tetapi bila Anda ingin terus menjadi budak dari bank dan membayar harga dari perbudakan, biarkanlah para bankir terus menciptakan uang dan mengontrol kredit.
- Sir Josiah Stamp, Direktur Bank of England, 1941 –


Kita akan memiliki Pemerintahan Dunia, tidak masalah Anda suka atau tidak. Satu-satunya pertanyaan adalah apakah Pemerintahan Dunia ini akan dicapai lewat penaklukkan atau persetujuan.
- Paul Warburg, bankir internasional, 1950 -


Petinggi di kantor kepresidenan telah digunakan sebagai basis untuk menghancurkan kebebasan rakyat Amerika, dan sebelum saya meninggalkan kantor ini, saya harus menginformasikan rakyat akan hal ini.”
- J.F. Kennedy, Presiden Amerika, menerbitkan silver dolar, uang bukan kredit dan mendatangani Executive Order 11110 untuk mencabut hak Federal Reserve untuk mencetak uang sebagai hutang kepada publik Amerika, mati ditembak 1963 –


Siapa mengendalikan bahan pangan, dialah yang mengendalikan manusia. Siapa mengendalikan minyak, dialah yang mengendalikan benua. Siapa mengendalikan uang, dialah yang mengendalikan dunia.
- Henry Kissinger, 1974 -


Kami sangat berterima kasih kepada Washington Post, New York Times, majalah Time, dan penerbit-penerbit besar lain yang Direkturnya telah menghadiri pertemuan-pertemuan kami dan menepati janji mereka selama 40 tahun terakhir. Akan menjadi hal yang mustahil bagi kita untuk mengembangkan rencana kami di dunia, bila kita mendapatkan sorotan dari publik selama tahun-tahun ini.
- David Rockefeller, 1991 –
***

Mayoritas orang sama sekali tidak akan memikirkan asal-usul penciptaan uang di masyarakat. Dan sekalipun diberitahu bahwa uang muncul dalam bentuk kredit (hutang), hal ini sama sekali tidak penting bagi mereka.

Tidak heran, karena sekolah dan universitas memang tidak mengajarkan ini. Kurikulum kita datang dari kurikulum luar negeri, dan kurikulum mereka ditulis oleh profesor yang digaji oleh institusi yang dibiayai oleh bankir internasional.

Sebelum Anda benar-benar menyadari makna perbudakan manusia lewat penciptaan uang dalam bentuk kredit, Anda tidak akan benar-benar memahami seberapa jahatnya sistem yang sedang kita gunakan, dan seberapa tidak mungkin kita mengatasi berbagai permasalahan sosial dan kemiskinan di sekeliling kita.

Indonesia bukan negara satu-satunya dengan penduduk miskin yang banyak. Semua negara menggunakan sistem penciptaan uang yang sama, dan mereka semua akan mengalami hal yang sama dengan kita.

Kalau memang ada perubahan yang Anda ingin lakukan di negara ini, mulailah dengan mempelajari sejarah uang. Mulai dari sana... Bila tidak, tidak ada perubahan berarti apapun yang perlu dibicarakan.

Nothing is going to change...

Kekuatan Bunga - Berbunga (Compounding Interest)







Bulan ini adalah sebuah bulan yang agak menyedihkan bagiku. Beberapa teman yang saya kenal baik di-PHK oleh perusahaan. Salah satu Manager Senior yang sangat saya hormati, juga dipecat dan dipulangkan ke negara asalnya. Mungkin karena perusahaan menganggap gaji mereka terlalu tinggi, mungkin juga karena hal yang lain, saya tidak tahu. Moga-moga mereka segera mendapatkan pekerjaan yang baru.

Anyway, hidup tetap berlanjut. Saatnya bercerita lagi.

Hari ini, saya akan menulis tentang masalah bunga-berbunga (compounding interest), hal yang mana yang menurut Albert Einstein adalah kekuatan terbesar di alam semesta…

Masih segar dalam ingatan saya, beberapa tahun terakhir saya sering didatangi beberapa teman-teman saya yang mau mempromosikan unit link investasi lewat asuransi. Tabel favorit mereka adalah sebuah tabel berisi kolom-kolom di mana diilustrasikan apa yang akan terjadi dengan uang saya bila saya menanamkan uang di unit link yang dikelola oleh manager investasi mereka. Menurut mereka, asumsi 20% pertumbuhan per tahun adalah wajar untuk saham. Dalam jangka panjang, investasi di bursa saham adalah yang paling menguntungkan. Di sisi kolom yang lain, ada asumsi berisi 5% dan 10%.

Menurut penjelasan mereka, saya akan menjadi milyarder kalau saya menanamkan uang saya di produk mereka.

Awalnya saya menolak dengan sopan, tapi saat IHSG mulai melewati angka 2000, saya mulai khawatir, dan sekali-kali akan mencoba memberitahu teman-teman saya yang terus mempromosikan “investasi” ini kepada saya bahwa dunia ini tidak cuma ada bull market, tetapi juga ada yang namanya bear market.

Saya pertama kali bermain saham tahun 1996. Dua tahun kemudian, 1998, terjadi krisis ekonomi, dan saya kehilangan sejumlah uang saya. Kalau direnungkan kembali, kerugian yang saya derita tahun 1998-1999 mungkin tidak seberapa. Pelajaran yang saya dapat pada masa itu menurut saya jauh lebih berharga.

Bagi Anda yang sempat membaca buku “Masa Lalu Uang & Masa Depan Dunia,” buku yang saya terbitkan tahun 2007, setidaknya Anda sudah mendapatkan peringatan untuk mulai keluar dari bursa saham pada akhir 2007. Bagi Anda yang belum membacanya, moga-moga Anda tidak mengalami kerugian di bursa saham waktu itu.

Bankir yang besar tidak akan memaafkan hutang-hutang yang mereka pinjamkan ke debitur mereka. Alasannya sederhana saja, karena mereka memahami kekuatan bunga-berbunga.

Ingat satu hal ini:
Untuk setiap sen uang yang Anda derita, Anda juga kehilangan potensi atas setiap sen yang bisa dihasilkan olehnya di kemudian hari.

Segala dalih bahwa menghapusbukukan hutang akan mengurangi kepercayaan orang lain dan alasan-alasan lainnya hanyalah dalih. Alasan utama yang sebenarnya hanya satu, yaitu karena potensi compounding interest yang luar biasa besar.

Berikut saya berikan contoh tabel berisi compounding interest. Asumsi angka pertumbuhan adalah 5%, 10%, dan 20%.

Angka investasi awal adalah 1 juta rupiah.





Perhatikan satu hal ini:
Compounding Interest selalu berujung dengan grafik parabolik, tidak peduli persentase kenaikan yang digunakan sebesar apa.

Kalau Anda termasuk orang yang percaya bahwa bursa saham “dalam jangka panjang” selalu naik, dan 20% asumsi pertumbuhan adalah “wajar,” maka dengan asumsi IHSG sebesar 1.500, tentunya Anda juga termasuk orang yang percaya bahwa 50 tahun kemudian, Index Harga Saham Gabungan di Indonesia akan menembus angka 11.300.000 (sebelas juta tiga ratus ribu poin)…!!



Kawan… Tidak ada pasar yang sanggup mempertahankan pertumbuhan menurut hukum bunga-berbunga (compounding interest). Tidak ada! Semua bubble di pasar finansial pasti pecah di dunia ini.

Kalimat paling berbahaya dalam dunia keuangan dan bagi keselamatan isi dompet Anda adalah:

This time it is different

Di dunia spekulasi, hal terpenting yang perlu kita pelajari adalah bagaimana mencari tahu kapan sebuah bubble akan pecah. Insider yang mengetahui informasi ini, dan juga para decision maker yang bisa menentukan arah pasar, Anda tidak bisa membayangkan seberapa kaya mereka bisa menjadi di pasar finansial…

Siklus inflasi dan deflasi sama menguntungkannya bila Anda tahu apa yang sedang Anda lakukan. Sebaliknya, bisa juga sama menyengsarakan bila Anda berada di tempat yang salah.

Mengapa saya mengungkit masalah bunga-berbunga kepada Anda?

Jawabannya adalah karena saya ingin Anda mulai berpikir seberapa banyak uang yang sudah dihisap oleh perbankan, baik perbankan internasional maupun perbankan lokal kepada umat manusia.

Tidak semua orang akan percaya bahwa keluarga Rothschild dan klan bankir internasional lainnya adalah manusia yang luar biasa kaya, kaya jauh melebihi imajinasi paling liar bagi siapapun juga yang ada di sini. Tetapi begitu Anda memahami kekuatan compounding interest dengan berjalannya waktu, Anda tidak akan heran lagi.

Ditambah dengan kendali mereka di perbankan (bank sentral, dan (terutama) bank-bank komersial swasta), mereka mengendalikan siapa mendapatkan berapa banyak kredit, dan siapa yang tidak, dan juga kendali kapan menaikkan suplai uang untuk menciptakan inflasi dan kapan mengetatkan suplai uang untuk menciptakan deflasi, sama sekali tidak heran lagi bagaimana klan ini bisa menguasai hampir semua aset berharga dan industri penting yang menguasai hajat hidup orang banyak di dunia ini.

Saya tidak setuju dengan bunga, dan saya tidak setuju dengan kredit, tetapi saya juga tidak sanggup mengubah dunia, tidak ada yang bisa saya lakukan untuk menghentikannya.

Jadi, pesan yang bisa saya berikan kepada Anda hanya satu hal ini: Pertahankanlah uang Anda baik-baik. Gunakan hukum bunga-berbunga untuk kepentingan Anda, bukan sebaliknya.

Saya bukan penggemar Warren Buffet, tetapi ada 2 pesan darinya yang menurut saya memang sangat benar:
1.Jangan kehilangan uang Anda.
2.Jangan lupakan pesan No 1

Bagi Anda yang sedang meminjamkan uang kepada orang, tariklah bunga setinggi yang Anda bisa, dan pastikan debitur Anda tidak akan default (gagal bayar) dengan alasan apapun juga.

Bagi Anda yang sedang berhutang kepada orang lain, segeralah lunasi hutang Anda. Semakin lama Anda berhutang, semakin besar compounding interest yang akan Anda bayarkan.

Bunga… ditambah dengan berjalannya waktu… Bisa membuat Anda kaya luar biasa… Tetapi bisa juga mendorong Anda (& keluarga Anda) ke jurang kemiskinan yang tak berujung…

Anda ingin tahu nasib seorang individu, sebuah perusahaan, atau bahkan sebuah bangsa?

Perhatikanlah siapa yang sibuk memberikan kredit, dan siapa yang sibuk membayar bunga kredit… Dengan berlalunya waktu, Anda bisa melihat siapa yang akan kaya, dan siapa yang akan menjadi budak.

Pada dasarnya semua negara akhirnya akan menjadi budak, karena semua negara menciptakan uang kepada rakyatnya dalam bentuk kredit. Tidak seperti yang disangka kebanyakan orang, negara-negara “maju,” mereka sama saja seperti kita, diperbudak oleh bankir internasional. Negara-negara high profile seperti Amerika, Inggris, Perancis, dll sedang dalam gerbong kereta ekspres menuju kebangkrutan, sama seperti kita.

Ketika saya menyebut negara, ujung-ujungnya yang saya maksudkan tetap adalah rakyatnya. Sebab kebangkrutan negara pasti akan ditanggung oleh rakyatnya, bisa lewat penarikan pajak yang luar biasa tinggi, bisa lewat inflasi yang sangat tinggi karena negara memutuskan untuk membayar beban hutang dengan cara pencetakan uang baru, bisa juga lewat cara yang bahkan lebih barbarian lagi: penyitaan harta individu secara langsung.

Satu hal yang akhir-akhir ini muncul di berita, yang sangat mengganggu pikiran saya, adalah berita bahwa mungkin pemerintahan negara kita akan menerbitkan surat hutang dalam jumlah masif dalam mata uang luar, seperti US dolar, Yen, dan Euro.

Kawan,
Hutang Dolar harus dibayar Dolar
Hutang Yen harus dibayar Yen
Hutang Euro harus dibayar Euro

Pemerintah kita hanya mungkin mencetak rupiah, mereka sama sekali tidak memegang kendali seberapa banyak Dolar, Yen, dan Euro yang akan kita miliki, termasuk nilai tukar rupiah terhadap Dolar, Yen, dan Euro.

Kalau hal ini jadi dilakukan, saya khawatir keputusan pemerintahan periode ini akan membawa Indonesia menuju era kehancuran besar dalam beberapa tahun ke depan.

Semoga itu tidak terjadi…

Mengenai Madoff, Ponzi, dkk

 
 
 
Madoff mengatakan bisnis dia adalah sebuah skema Ponzi, dan seluruh media utama dunia melaporkan sesuai dengan apa yang dia katakan. Orang-orang mulai sibuk menjelaskan apa itu skema Ponzi, tetapi tak seorang pun memaparkan secara detail bagaimana bisa bisnis Madoff adalah skema Ponzi.

Tentu saja tidak bisa, katakan Madoff sendiri tidak menjelaskannya.

Saya tidak ingin berspekulasi tentang hal ini. Tetapi satu hal yang perlu Anda ketahui, hanya beberapa hari setelah kasus ini muncul di berita, seorang hakim di Amerika mengatakan bahwa karena Madoff menyelenggarakan sebuah bisnis "penipuan", maka para "korban" sepantasnya berhak mendapatkan kompensasi!

Berikut beberapa perusahaan yang menjadi "korban" Madoff:
- HSBC
- BNP Paribas
- Nomura
- AXA
- Royal Bank of Scotland
- Fortis
- Swiss Life Holding
- UBS
- Jewish Community Foundation
- etc

**List Korban Madoff

Come on... Lihat baik-baik list di atas. Kita bukan sedang membicarakan ibu-ibu rumah tangga yang kehilangan uang di reksa dana atau bursa saham, perusahaan-perusahaan itu adalah institusi finansial paling profesional di dunia, dan juga organisasi yang dikelola oleh manusia paling licik dan kejam di dunia (Yahudi Talmudik), bagaimana bisa orang-orang percaya mereka adalah "korban?"

Pernahkah Anda meminjam uang ke bank? Dalam dunia riil, meminjam uang tidak sesederhana yang Anda bayangkan. Setiap perusahaan finansial memiliki divisi credit risk department, semua investasi perusahaan itu harus melewati departemen ini. Semakin besar nominal investasi, semakin banyak study & due diligence yang harus dilakukan, dan semakin tinggi posisi orang yang harus menyetujui penanaman uang itu.

Customer Madoff menanam masing-masing ratusan juta dolar dan beberapa ada yang menginvestasikan beberapa miliar dolar kepadanya. Mana mungkin mereka tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh Madoff. Apakah Anda benar-benar percaya Madoff mengatakan kepada mereka, "Berikan saja uang kalian kepadaku, jangan tanya apa yang saya lakukan, yang penting setiap tahun saya akan memberikan Anda return 13,5%" dan customer dia setuju begitu saja?

Huh..

Kalau sampai ada bailout kepada mereka, strategi ini jangan-jangan bisa menjalar ke seluruh dunia. Cukup tunjuk satu orang sebagai kambing hitam, maka kerugian uang yang diderita para bankir dan yayasan zionis di pasar finansial bisa dinombok oleh pembayar pajak di masing-masing negara. Luar biasa...!!

Anyway, bagi Anda yang masih tertarik dengan skema Ponzi, berikut adalah sedikit informasi yang bisa saya sharing kepada Anda.

(Terima kasih kepada seorang teman saya yang masih menyimpan file-file lama buku PPB, bila tidak saya tidak bisa memposting file ini lagi)

Buku : Berbohong & Menjadi Kaya
Bab 3 : Skema Ponzi, Piramid Game, dan Kawan-Kawan

Sepintas Tentang Mr. Ponzi

Carlo Ponzi lahir di Italia dan pindah ke New York pada tahun 1893. Saat itu usianya 15 tahun, dan dia suka mencari berbagai jalan singkat menuju kekayaan. Dia pernah masuk penjara di Kanada (karena penipuan surat berantai dan penggunaan cek palsu) dan juga di Atlanta (untuk skema imigrasi ilegal). Akhirnya Ponzi pindah ke Boston tahun 1919.



Berpindah kerja dari satu tempat ke tempat lainnya di kota Boston, pria berbadan kecil ini (tingginya sekitar 156 cm, walaupun sering tidak memiliki pekerjaan, namun selalu mengenakan pakaian yang elegan) bertekad mengubah realita hidupnya. Dia sering begadang membayangkan berbagai cara untuk menjadi kaya dengan cepat.

Boston bukanlah tempat yang sesuai untuk menjadi orang miskin. Kota itu penuh dengan orang kaya dengan gaya hidup yang mewah, hal ini membuat Ponzi muda frustrasi dan sangat kecewa. Dia terus memeras otak untuk memikirkan bagaimana caranya dia akan mendapatkan sebagian dari kemakmuran yang berlimpah di kota barunya. Selama waktu itu, Ponzi juga tidak lupa untuk selalu menyurati keluarga dan saudaranya yang mungkin sedang khawatir padanya, mengingat masa itu adalah masa perang dunia pertama.

Surat-surat yang dia tulis ini kemudian memberikan Ponzi sebuah gagasan yang di kemudian hari dia ilustrasikan sebagai sebuah “gagasan hebat.” Ponzi sendiri mungkin tidak menyangka, skema yang dia ciptakan ini pada akhirnya menjadi bentuk lain dari sistem spekulasi mata uang modern.

Di awal 1900-an, seseorang dapat menyertakan sebuah kupon di dalam surat untuk menghemat biaya koresponden untuk membeli perangko. Sebuah organisasi yang dinamakan International Postal Union mengeluarkan kupon yang dapat diperdagangkan di sejumlah negara tertentu untuk mendapatkan perangko setempat.

Ponzi menemukan bahwa kupon-kupon yang dibeli di negara yang ekonominya lemah dapat dijual dengan sejumlah keuntungan di Amerika Serikat. Dia memutuskan untuk menggunakan sedikit uang yang dengan susah payah dia tabung untuk mencoba “gagasan hebat” ini. Sayangnya, dalam waktu singkat dia menemukan bahwa ada berbagai hal lainnya di skema ini yang membuat impiannya tidak bisa berhasil. Terutama adalah bahwa mayoritas keuntungan pada akhirnya ternyata kembali ke organisasi postal.

Namun, walaupun gagasan hebat dia tidak berhasil, hal yang lain muncul. Setiap kali dia membicarakan skema ini dengan orang lain, mereka tampaknya percaya dan tertarik untuk mendengar lebih lanjut. Teman-teman dan keluarga mereka akan selalu bertanya padanya, tanpa curiga, bagaimana rencana ini harus dilakukan. Orang-orang sangat tertarik dengan investasi ini, walaupun Ponzi sudah tahu skema itu sebenarnya tidak berhasil.

Jadi, di akhir tahun 1919, Ponzi mengambil keputusan yang akan membuat namanya tercatat di sejarah sebagai salah satu icon paling terkenal di dunia penipuan. Dia berhenti membeli kupon perangko internasional dan berurusan dengan birokrasi tak berujung. Mulai saat itu dia fokus untuk melakukan hal yang lebih menguntungkan, yaitu mencari investor.

Pada Desember 1919, Ponzi mulai menggunakan nama baru, “Charles” Ponzi. Dengan modal $150, dia mulai meminjam uang dengan memberikan nota-nota pengembalian di masa mendatang. Dia mulai mengundang teman-teman dan saudara mereka untuk ikut di program yang dia sebut sebagai “Rencana Ponzi.”

Ponzi mengklaim bahwa dia bisa menghasilkan keuntungan 100% dalam beberapa bulan. Masalahnya adalah dia kekurangan modal untuk mengeksploitasi kelemahan sistem postal internasional. Karena masih ada ruang untuk pertumbuhan, dia tidak keberatan untuk berbagi keuntungan dengan investor.

Ponzi melakukan presentasinya secara berhasil. Dia memberi contoh bahwa sebuah kupun yang dia beli di Spanyol dengan harga satu sen dapat ditukar dengan nilai ekuivalen enam sen di Amerika. Keuntungannya adalah lima kali lipat! Nada bicaranya begitu meyakinkan sehingga banyak orang mempercayainya.

Apapun juga yang dia katakan, dia berhasil. Beberapa orang, termasuk teman dekat dan saudara mereka, memutuskan untuk berjudi dengannya, dan Ponzi berhasil mengumpulkan $1.250 dari mereka. 90 hari kemudian, Ponzi memberikan bunga kepada mereka sebesar $750. Investor yang terkagum-kagum padanya menceritakan kisah ini kepada lebih banyak orang. Dalam waktu singkat, kantor Ponzi penuh dengan orang-orang serakah yang ingin menginvestasikan uang mereka kepadanya.

Dengan perjanjian tertulis bahwa dia akan membayar $150 dalam waktu 90 hari untuk setiap $100 yang dia terima, Ponzi berhasil meyakinkan ribuan orang yang akhirnya memberikan jutaan dolar kepadanya (termasuk ¾ anggota kepolisian Boston). Dia juga kadang-kadang menenangkan kebimbangan investornya dengan melunasi pembayarannya dalam waktu 45 hari. Dalam delapan bulan, dia mengumpulkan $9 juta, yang mana kewajibannya adalah $14 juta. Dia membayar agennya komisi sebesar 10%. Termasuk 50% bunga pinjaman kepada investor, bunga yang harus dia bayar sebenarnya adalah 60%.

Tetapi metode finansial gaya Ponzi tidak berdasarkan keuntungan riil dalam berbisnis. Dia menggunakan uang investor baru untuk membayar uang investor lama yang jatuh tempo. Walaupun penuh dengan uang tunai, sebenarnya Ponzi tidaklah menghasilkan uang apapun. Dalam suatu proses pengadilan di kemudian hari, terbukti bahwa sebenarnya Ponzi berada dalam kondisi yang sangat kepepet, semakin besar bisnisnya, semakin besar masalahnya. Dia sama sekali tidak melakukan investasi apapun, semua uang yang sedang dia pegang adalah uang orang-orang yang berhasil ditipunya.

Suatu saat, Ponzi mendapatkan $200 ribu dalam sehari, dengan dividen 50% dalam 90 hari. Akhirnya, dia menaikkan janjinya dengan memberikan 100% bunga dalam tiga bulan. Para investor pun antri menyerahkan uang kepadanya.

Ponzi adalah seorang genius dalam memanipulasi orang. Sebagai contoh: bila seorang investor mau mengambil uang mereka yang jatuh tempo, mereka harus berjalan melewati kantor mereka untuk sampai ke counter yang antriannya sangat panjang karena cuma ada dua atau tiga counter yang buka.

Setelah uang ada di tangan, para investor ini berjalan keluar dengan menghadapi belasan counter investasi yang antriannya pendek. Mayoritas kemudian tergoda untuk menginvestasikan lagi uang mereka. Sangat sedikit orang yang berjalan keluar dari kantor Ponzi dengan uang di tangan.

Di puncak masa likuiditasnya, Ponzi menjadi seorang maniak shopping. Dia menghabiskan waktunya untuk membeli baju baru, jam emas, berlian untuk istrinya, sebuah mobil limosin, dan juga villa 20 kamar di Lexington, pinggir kota Boston. Seperti yang juga dilakukan para penipu yang mengikuti jejaknya, Ponzi menghabiskan sejumlah besar waktunya untuk membelanjakan uangnya.

Di awal bulan Juli 1920, Ponzi mendapatkan omset $1 juta per minggu. Pada suatu hari, Ponzi membawa sebuah tas berisi uang tunai $3 juta menuju Hanover Trust Co., dan membeli sejumlah saham di bank tersebut. Sayang kesuksesan dia tidak berlangsung lama.

Karena setiap hari ada ratusan orang antri di kantornya untuk menyetor dan mengambil uang, seorang editor harian Boston Post meminta pendapat dari sejumlah ahli keuangan dan mereka menyimpulkan bahwa, walaupun memang ada kemungkinan untuk mendapatkan keuntungan ribuan dolar dari pertukaran kupon perangko, namun “gagasan hebat” Ponzi tidak mungkin sanggup melayani permintaan yang sedemikian besar dengan perdagangan sebesar jutaan dolar.

Tidak lama kemudian, para reporter yang skeptis meminta wawancara dengannya. Karena khawatir akan image-nya, Ponzi menyewa seorang public relation bernama William McMasters untuk menangani publisitasnya. Ini ternyata adalah langkah bumerang baginya. McMasters menghabiskan beberapa hari di kantor Ponzi, dan menemukan bahwa operasi ini adalah sebuah penipuan dan langsung menuju Kejaksaan. “Orang ini adalah seorang idiot finansial,” kata McMasters. “Dia bahkan tidak bisa berhitung…. Dia duduk dengan mengangkat kedua kakinya di meja dan menghisap cerutu lewat pipa emasnya sambil berguman tentang kupon perangko.”

Ponzi dipanggil untuk menghadap pengadilan di Boston. Para penggemar etnik Italianya bersorak mendukung saat Ponzi melewati jalan, namun para auditor dan polisi yang menggeledah kantornya tidak berhasil menemukan apapun, selain catatan nama-nama dan nomor telepon. Karyawannya, saat ditanya, mereka tidak tahu bagaimana sebenarnya bos mereka mendapatkan profit usaha.

Sebulan kemudian, khawatir akan runtuhnya skema “gagasan hebat”nya, Ponzi membawa $2 juta uang tunai menuju Saratoga Springs. Dia berharap memiliki nasib yang baik di casino tersebut. Dia tidak berhasil, dia kehilangan semuanya.

Pada Agustus 1920, harian Boston Globe menulis sebuah ekspos terhadap skema Ponzi. Nyaris terjadi kerusuhan, ribuan investor yang ketakutan menyerbu kantor Ponzi dan meminta uang mereka kembali. Itu seperti rush terhadap sebuah bank. Pengadilan kemudian menjelaskan secara detail:

Pada tanggal 19 Juli, rekening Ponzi di Hanover Trust adalah $334.000. Pada tanggal 24 Juli adalah sebesar $871.000. Namun, minggu berikutnya terjadi penarikan: $572.000 pada 26 Juli, $228.000 pada 27 Juli, dan $905.000 pada 28 Juli, total melebihi $1.765.000. Walaupun demikian, rekeningnya masih menunjukkan surplus, karena Ponzi menyetor uang tambahan yang dia ambil dari bank lain. Skema ini akhirnya berakhir karena penarikan sebesar $331.000 pada tanggal 9 Agustus. Ponzi bangkrut.

Di puncak skemanya, Ponzi hanya memiliki kupon perangko senilai $30, dengan uang investor sebesar $10 juta dari sekitar 20.000 investor di Boston dan New York.

Dalam masa 10 bulan itu, Ponzi merasakan suka duka tertinggi dari kehidupannya. Kebanyakan investor yang percaya padanya kehilangan seluruh uang mereka. Ponzi akhirnya ditangkap agen Federal dan menjalani hukuman penjara selama empat tahun di penjara Massachusetts.

Setelah keluar dari penjara, Ponzi kembali mengasah bakatnya. Dia melakukan berbagai aksi penipuan di Florida. Akhirnya, dia dideportasi kembali ke Italia. Dalam wawancaranya yang terakhir bersama sebuah harian berita, Ponzi mengatakan bahwa dia tidak menyesal namun berharap dunia memaafkannya.

Yang kemudian terjadi lebih cocok dibilang “melupakannya.” Di awal 1930-an, pimpinan Italia Benito Mussolini secara ceroboh mengira pria bernama Ponzi ini adalah seorang genius perbankan. Ponzi diangkat sebagai pejabat tinggi di pemerintahan Italia. Tidak lama kemudian, para pengikutnya menemukan bahwa pimpinan mereka bahkan tidak bisa berhitung. Ponzi mengetahui bahwa dia segera akan diekspos, dia segera mengepak beberapa tas berisi uang tunai dan berlayar menuju Amerika Selatan.

Namun, ternyata Ponzi melakukan hal yang sama di sana. Ketika Ponzi meninggal di Brazil beberapa tahun setelah itu di salah satu rumah sakit, dia sedang dalam pengawasan polisi.


Mengenali Skema Ponzi:

Skema Ponzi terjadi ketika kita melihat dua kegiatan tersebut:

1. Perancang program menggunakan uang dari investor sendiri untuk membayar bunga “investasi” mereka, sambil menyakinkan mereka untuk tetap mempertahankan dana investasi mereka.
2. Perancang program mencari investor baru dan menggunakan uang mereka untuk membayar kepada investor lama.

Semakin besar bunga yang dijanjikan, semakin besar kebutuhan perancang program untuk menemukan partisipan baru. Semakin cepat masa jatuh tempo yang dijanjikan, semakin cepat perancang program harus menemukan investor baru.

Skema permainan Ponzi tidak mungkin bertahan terlalu lama karena keterbatasan jumlah partisipan di wilayah geografis manapun. Skema ini dapat berumur lebih panjang jika perancang program sanggup membangun sumber pendapatan baru di wilayah lain setelah partisipan di suatu wilayah sudah mencapai tingkat maksimal.

Namun, pada akhirnya, pada suatu ketika semua skema Ponzi pasti akan runtuh. Pertanyaannya hanya satu: Kapan?

Berikut adalah sebuah ilustrasi bagaimana skema Ponzi bekerja di zaman sekarang:

Contoh #25:

Anda mengaku sebagai seorang pengusaha peternakan ayam. Anda membuat perhitungan bisnis peternakan ayam dan menemukan bahwa untuk setiap juta rupiah yang diinvestasikan, Anda bisa mendapatkan keuntungan 400% dalam setahun. Setelah itu, Anda mulai mengundang orang-orang untuk mendengarkan presentasi Anda. Anda menawarkan kepada mereka bunga 25% setiap 3 bulan atas dana investasi mereka.

Ketika orang mulai menginvestasikan uang mereka, Anda secara aktif masih terus mencari investor baru. Saat masa 3 bulan sampai, Anda menggunakan uang investor sendiri untuk membayar mereka. Proses ini dilanjutkan selama yang Anda bisa sampai Anda tidak sanggup membayar para investor lagi.

Di contoh di atas, perancang program tidak memiliki niat untuk mengembangkan peternakan ayam sejak awal. Namun skema Ponzi tidak selalu seperti itu. Kadang-kadang, perancang program bisa jadi benar-benar melaksanakan rencana bisnis yang dia buat. Namun, di tengah jalan, bisnisnya gagal dan dia menemukan bahwa keuntungan dengan mengembangkan skema Ponzi ternyata lebih menguntungkan dibanding dengan rencana bisnis awalnya. Akhirnya, dia berpindah haluan dan fokus pada pencarian investor baru dan mengabaikan rencana bisnis awalnya.


Pyramid Game

Perbedaan utama antara skema Ponzi dengan permainan piramida adalah usaha para partisipan/investor. Pada skema Ponzi, para investor adalah bersikap pasif, mereka tinggal menunggu masa jatuh tempo dan mengambil uang mereka. Sedangkan pada permainan piramida, para partisipan harus secara aktif mencari partisipan baru. Para peserta memang sejak awal menyadari apa yang mereka lakukan, mereka memang sadar bahwa keselamatan modal dan keuntungan yang mereka terima adalah tergantung hasil perekrutan mereka.

Pada permainan piramida, para peserta mula-mula harus membayar biaya tertentu untuk bisa bergabung dengan sistem bisnis itu untuk mencari rekrutan baru dan mendapatkan komisi/bonus dari perusahaan.

Contoh #26:

Sebuah perusahaan, sebut saja PT. Rimba Finance Indonesia, menawarkan peluang “bisnis” seperti ini: Anda disuruh membayar Rp75.000 untuk bergabung dengan mereka. Rp25.000 adalah joining fee, sisa Rp50.000 dibayar kepada lima orang yang merupakan upline Anda, dan masing-masing upline mendapatkan Rp10.000. Setelah membayar uang itu, Anda berhak menjadi anggota perusahaan mereka dan mulai mencari partisipan baru. Para partisipan baru juga akan menyetor Rp75.000 dan Anda sebagai perekrut, upline dari mereka, akan mendapatkan Rp10.000.

Setiap orang boleh merekrut maksimal 5 orang dalam satu level. Karena total ada 5 upline yang akan mendapatkan bayaran, berarti total pembayaran adalah sebesar 5 level. Total pembayaran yang bisa Anda terima secara matematis adalah sebagai berikut:

Level 1 : 5 partisipan : bonus Rp 50.000,-
Level 2 : 25 partisipan : bonus Rp 250.000,-
Level 3 : 125 partisipan : bonus Rp 1.250.000,-
Level 4 : 625 partisipan : bonus Rp 6.250.000,-
Level 5 : 3125 partisipan : bonus Rp 31.250.000,-

Total bonus komulatif matematis adalah:
Rp 39.050.000,-

Ini tampaknya sebuah bisnis yang “masuk akal” dan yang pasti, sangat bonafit, bagi kebanyakan orang. Bayangkan saja, dengan modal Rp75.000, seseorang bisa mendapatkan manfaat maksimal sebesar 39 juta, artinya lebih dari 52.000%. Bisnis atau tabungan deposito jangka pendek mana yang bisa menandingi angka ini?

Sesungguhnya, perusahaan seperti ini beberapa di antaranya menyebut mereka sebagai PT. X, artinya di Indonesia mereka adalah badan hukum yang legal. Saya tidak tahu apakah PT. yang melekat pada nama perusahaan seperti itu adalah jujur atau tidak, yang jelas saya memang pernah melihat brosur iklan dari PT-PT seperti itu.

Pada mayoritas permainan piramida, biaya untuk bergabung biasanya masih terjangkau kebanyakan orang. Para partisipan sejak awal memang sudah menyadari bahwa mereka sedang melakukan usaha piramida. Mereka tidak takut rugi, karena bagi mereka kegiatan itu hanyalah sebuah taruhan judi biasa, kalaupun rugi, kerugiannya masih bisa diterima dan tidak memberatkan.

Semua permainan piramida pada akhirnya akan berkembang seperti skema Ponzi untuk bisa bertahan lebih lama. Mereka harus mengeks-pansikan wilayah “bisnis” mereka ke wilayah geografis lain untuk melanjutkan sumber dana untuk membayar para partisipan sebelumnya.

Karena keterbatasan jumlah populasi dan reputasi piramida yang buruk, permainan atau “bisnis” piramida biasanya tidak bisa berkembang terlalu besar dan berjalan dalam waktu yang lama. Biasanya dalam beberapa bulan, masa ekspansi mereka sudah akan berakhir. Para partisipan yang bergabung belakangan akan kehilangan uang mereka. Jumlah mereka adalah mayoritas, cukup sering adalah lebih dari 90% karena sistem bagi hasil piramida memang mengharuskan demikian.


MLM / Network Marketing,
Orang Kaya Membangun “Jaringan”

Menurut salah satu “guru” finansial yang sangat populer beberapa tahun terakhir ini: “Orang kaya membangun jaringan, orang miskin dan kelas menengah sibuk mencari pekerjaan.”

Salah satu sistem bisnis yang dipuji setinggi langit oleh “guru” tersebut adalah bisnis Multi Level Marketing (MLM) alias Network Marketing. Katanya, MLM adalah salah satu cara untuk membangun jaringan dan menjadi kaya sambil menolong orang lain. Anehnya, “guru” tersebut tidak bergabung dengan MLM manapun, yang dia lakukan adalah menulis buku untuk memuji MLM dan menjualnya kepada jutaan partisipan MLM. Pada saat dia memuji “jaringan” versi MLM, dia sendiri membangun jaringan versi yang lain, model jaringan bisnis yang lebih konvensional.

Sebenarnya “guru” tersebut tidak berbohong ketika dia mengatakan bahwa MLM akan membuat orang menjadi kaya. Masalahnya adalah kalimat yang barusan sebenarnya belum selesai, permasalahan penting yang harus Anda pikirkan adalah: Kaya bagi siapa? Kaya bagi berapa persen partisipan yang bergabung?

Perusahaan MLM menganggap para distributor mereka sebagai pelaku bisnis independen, orang-orang yang membeli hak distribusi produk bisnis mereka. Sederhananya, bos MLM sedang menjual bisnis kepada para distributor.

Kalau Anda pernah membeli saham, Anda tentunya tahu perusahaan yang hendak go public diharuskan untuk memberikan paparan publik yang akurat tentang bisnis dan data-data keuangan perusahaan. Walaupun kita tahu yang namanya “akurat” versi korporat tidak selalu demikian, namun setidaknya mereka sudah mencoba dan melaksanakan prosedur formal untuk menjual bisnis mereka.

Contoh lain, seorang pedagang yang hendak menjual toko dan bisnisnya, tentunya calon pembeli berhak meminta informasi tentang penjualan toko dan catatan keuangan toko tersebut.

Bila Anda menghadiri “business opportunity” versi MLM, ketika perusahaan itu mencoba menjual hak “bisnis” kepada Anda, data apa yang sebenarnya Anda dapatkan? Apakah mereka akan memberitahu kepada Anda: Siapa mendapatkan berapa? Berapa banyak orang mendapatkan berapa banyak uang? Berapa persen partisipan yang mendapatkan keuntungan? Berapa persen partisipan yang tidak mendapatkan keuntungan?

Beberapa tahun yang lalu, saat saya menjadi partisipan dari suatu program MLM, bila saya mencoba mengajak teman saya untuk ikut MLM dan mereka tidak tertarik, saya benar-benar berpikir demikian dalam hati saya:

 Mereka tidak punya visi.
 Mereka tidak punya impian.
 Mereka butuh motivasi.
 Mereka belum sadar.
 Mereka harus menghadiri seminar “business opportunity” kami.
 Mereka benar-benar kasihan.

Saya tidak menyangka, beberapa tahun setelah itu, saya sendiri akan menjadi anggota masyarakat yang anti-MLM.

Dalam seminar MLM, umumnya kita akan dijelaskan tentang siapa mereka (profil perusahaan), “business plan” mereka (cara bagi hasil/bonus), diikuti dengan berbagai testimonial dan kisah kesuksesan. Di seminar-seminar turunannya, mereka menyelenggarakan seminar motivasi yang intinya adalah berpikir positif, bertindak positif, dan program NLP lainnya.

Bila mengikuti seminar mereka secara rutin, partisipan akan menjadi sangat bersemangat dan sekaligus menjadi “buta.” Mereka tidak lagi bisa melihat gambaran yang akurat tentang apa yang sedang mereka lakukan. Para partisipan menjadi lupa untuk berpikir berapa sebenarnya harga wajar dan manfaat dari produk yang mereka jual, mereka tidak lagi bisa melihat bahwa walaupun pemilik dan sejumlah upline mereka menikmati hidup yang berlimpah, namun peluang matematis mayoritas peserta untuk mencapai level itu adalah mendekati nihil.

Mereka tidak ingat lagi walaupun mereka sedang menjual untuk perusahaan tersebut, semua biaya penjualan dan marketing adalah tanggung jawab mereka sendiri. Dan mereka juga tidak lagi sadar bahwa pembagian hasil/bonus MLM adalah permasalahan sistem kompensasi matematika, bukan berdasarkan seberapa positif/termoti-vasinya mereka. Bila rancangan skema bagi hasil mengharuskan bahwa hanya 1% partisipan yang akan untung dan 99% lainnya rugi, angka ini tidak bisa berubah walaupun 100% partisipan aktif membeli buku, kaset, dan vcd motivasi secara teratur.

Tidak ada yang salah dengan seminar motivasi, sesungguhnya secara pribadi saya sangat salut dengan industri MLM. Mereka bersedia mendidik para partisipannya secara mandiri dan tidak menggantungkan diri kepada orang lain. Masalahnya adalah: Apakah karena kita menggunakan ilmu pengembangan diri positif dalam bekerja, lantas semua yang kita kerjakan otomatis juga menjadi benar?

Bagaimana kalau kita mengajarkan seorang calo obat bius ilmu berpikir positif? Kita mengajari dia untuk bangun lebih pagi, lebih ramah mencari pelanggan, bekerja lebih giat, berpikir lebih optimis, dan akhirnya berhasil menjual lebih banyak. Apakah lantas pekerjaannya menjadi positif?

Tunggu dulu! Jangan salah paham. Saya tidak mengatakan kegiatan MLM adalah salah atau ilegal. Saya tidak berkata demikian. Sampai di sini, saya hanya ingin menyampaikan bahwa seminar motivasi dan pikiran positif yang diberikan MLM tidak berhubungan dengan positif tidaknya model bisnis mereka. Itu adalah 2 hal yang berbeda. Seminar pikiran positif adalah seminar pikiran positif. MLM adalah MLM. Mereka tidak sama. Bukan karena MLM menyelenggarakan seminar pikiran positif, lantas mereka juga pasti positif.

Saran saya, hadiri saja seminar motivasi MLM, tetapi lebih baik gunakan pelajaran yang didapat untuk melakukan pekerjaan kita sehari-hari. Kalau Anda adalah pedagang, gunakan pelajaran yang didapat untuk menjual lebih banyak. Kalau Anda seorang profesional, gunakan pelajaran yang didapat untuk bekerja lebih cerdas dan efektif. Kalau Anda seorang salesman, gunakan pelajaran yang didapat untuk menutup lebih banyak transaksi.

Angka-angka bicara lebih keras dibanding kata-kata. Berikut adalah data keuangan salah satu MLM top di Amerika yang disajikan dalam bentuk penerimaan per 10.000 distributor.

Komposisi bagi hasil seperti di atas adalah tidak berbeda jauh antara MLM yang satu dengan yang lainnya. Tentu saja, karena sistem bagi hasil antar MLM tidak persis sama, maka angka yang akan terlihat di MLM lain juga akan berbeda. Namun, tetap saja perbedaannya tidak terlalu besar.

Mayoritas partisipan MLM ditakdirkan secara matematis untuk rugi (setelah biaya pembelian dan marketing diperhitungkan). Pola bagi hasil terhadap 10.000 partisipan di atas akan tetap tampak dengan pola yang sama sekalipun mereka semua membaca buku pikiran positif yang sama, mendengarkan kaset pikiran positif yang sama, dan menonton vcd presentasi pikiran positif yang sama. Keberhasilan di sistem bisnis mereka juga sangat tergantung pada posisi dan timing seorang partisipan di bagan perusahaan, bukan hanya permasalahan motivasi dan pikiran positif.

Apa sebenarnya MLM???

Menurut pendapat pribadi saya, perbedaan antara MLM dengan permainan piramida adalah MLM menjual produk tertentu, sedangkan permainan piramida hanya melibatkan perputaran uang para partisipan tanpa produk.

Skema mereka secara garis besar identik, tujuan dan hasil akhir juga demikian. MLM bisa dikategorikan sebagai usaha yang legal adalah berkat adanya produk sah yang mereka jual. Saya akui sejumlah perusahaan MLM memang menjual produk dengan kualitas yang sangat baik, namun saya tetap percaya mayoritas partisipan MLM manapun tidak bergabung dengan mereka karena manfaat produk yang mereka jual, melainkan karena mereka mempercayai janji-janji pendapatan amat besar yang mereka dengar di pertemuan “business opportunity” MLM tersebut.

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa MLM bersalah atau ilegal, sesungguhnya saya tidak peduli dengan sistem bagi hasil ekstrim yang terjadi pada sistem bisnis mereka. Sama seperti permainan piramida, di mana sebagaian kecil partisipan mendapatkan keuntungan lewat kerugian masif yang dialami mayoritas peserta, bagi saya itu hanyalah masalah kesepakatan. Seandainya seorang partisipan mengetahui secara jelas apa yang sedang dia lakukan, mengetahui secara jelas peluang menang-kalahnya sejak awal dan tetap sepakat untuk bergabung, ya silakan saja, itu kan hak masing-masing.

Perbedaan ekstrim pendapatan antar orang dalam suatu organisasi di mata saya adalah realita hidup, sekadar memprotes tidaklah ada artinya. Negara kapitalis manapun mengalami masalah ini. Kalau MLM dinyatakan bersalah karena masalah ini, tentunya banyak jenis usaha lainnya yang akan segera menyusul.

Yang penting di mata saya mengenai industri MLM adalah transparansi dan kejujuran mereka. Bila mereka bersedia memberikan data yang akurat kepada distributor dan calon distributor mereka sejak awal tentang peluang menang-kalah di sistem bisnis mereka, bila mereka bersedia memaparkan secara transparan laporan pembayaran riil mereka kepada semua level distributornya, saya tidak akan mengkritik mereka lagi.

Sebagai contoh, di Amerika Serikat, salah satu perusahaan MLM paling terkenal diperintahkan oleh FTC (Federal Trade Commission) untuk menuliskan label berikut di semua produk mereka: “54% dari distributor kami tidak men-dapatkan keuntungan dan sisanya mendapatkan rata-rata $65 per bulan.” Sayangnya, perusahaan ini tidak diharuskan untuk melakukan hal yang sama di perusahaan cabangnya di negara lain, termasuk Indonesia.

Perbedaan MLM Dengan Perusahaan Direct-Selling

Sering kali kita mendengar dari pelaku MLM bahwa mereka adalah perusahaan direct-selling, namun hal itu lebih sering daripada tidak, adalah tidak benar. Perusahaan direct-selling (penjualan langsung) menitikberatkan usaha mereka untuk menjual produk ke konsumen non-distributor. Mayoritas pendapatan mereka adalah lewat penjualan retail. Pada kebanyakan MLM, perhatian utama mereka bukan meretailkan produk ke konsumen non-distributor, melainkan mencari dan membangun jaringan downline lewat aksi perekrutan demi komisi/bonus.